Tampilkan postingan dengan label angin selatan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label angin selatan. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Agustus 2012

Angin Selatan-2

Masih di tengah suara gaduh serangga-serangga malam. Terdengar sayup denting piano mengiringi dua manusia berjalan menuju altar. Dua-duanya berpakaian putih. Seorang pria menunggu di depan terlebih dahulu. Gadis itu menggandeng lengan ayahnya sambil sesekali tersenyum. Sang pria berdiri dengan sedikit keringat di pelipis.

Ucap setia itu mengikat cinta dalam nuansa agung dengan nama Cahaya di atas cahaya. Binar-binar itu kian indah dari pancaran matanya. Duhai, tawa lepas pun mulai mengisi kebun hijau dengan botol-botol anggur.

Namanya ditambah di ujung kelak. Mereka akan tahu makna dari bercinta melawan tiran. Ada penyusup di jiwa yang mencoba mencari arena untuk sebuah pengkhianatan. Jangan biarkan dia masuk, Nyonya! Dia lebih tahu sisi gelap dengan terang. Dia tahu cara menggelitik kokohnya keyakinan. Hanya satu cara menepisnya; kesucian dahagamu menyempurna menuju Cinta lewat caramu bertukar rasa dengannya. Menoleh sesekali saja ke jari manismu dan kau tahu itulah surgamu.


Bandung, 28 April 2011

Angin Selatan

Apa yang luar biasa dari mencinta? Berharap cemas. Menunggu kabar tiap detik, ketukan pintu, pesan singkat, dering telepon, lalu apa lagi? Tatapan dan senyuman. Barangkali saja kurang dari itu bisa membuat warna beradu. Tak peduli ada jutaan warna di semesta. Semua padu. Berputar. Kemudian, hilang sama sekali. Menyilaukan. Lebih dari nafas yang terengah dan detik yang sedemikian cepat.

Apa yang luar biasa dari mencinta? Ide tak sejalan dengan realitas. Pertimbangan mulai mengantri. Langkah mulai goyah. Nafas mulai tersendat. Namun, detak masih cepat walaupun lain makna. Waktu terasa begitu lambat. Kepingan cerita mulai tak terbaca. Teka-teki berdatangan dan seringkali menyakitkan. Keseimbangan dipertaruhkan lewat ketukan palu! Teruskan atau berhenti sama sekali? Tak ada jalan tengah karena kita enggan menjadi naïf, bukan?

Apa yang luar biasa dari ceritaku? Aku terus mencinta. Degupku ada karena cinta. Berakhir dengan cinta. Aku adalah cinta. Kau, dia, mereka pun cinta. Menyatu karena cinta. Terpisah karena cinta. Mati menuju Cinta. Hilang bersama Cinta. Lebur di dalam Cinta. Sampai bertemu di Cinta! Yakin cinta kita sampai di Cinta.


Bandung, 27 Januari 2011