Tampilkan postingan dengan label untuk bumi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label untuk bumi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Agustus 2012

Untuk Bumi-6

Fase menuju bijak begitu sulit untuk ditapaki. Tidak cukup hanya dengan pemahaman komprehensif, tetapi juga ada realisasi yang dilakukan. Namun, sejauh mana hal tersebut bisa diimplementasikan? Perlu kita ketahui bahwa manusia melakukan segala sesuatu berdasarkan dengan pemahaman yang dimilikinya. Maka, tindakan lanjut adalah hasil dari pemahamannya tersebut. Bagaimana dengan penghukuman? Penghukuman terjadi jika tindakan yang dilakukan mengalami ketidaksesuaian antara konsepsi dan realitas.

Timbul pertanyaan mengenai landasan kebenaran yang menjadi pijakan penghukuman. Bagaimana dengan norma yang berlaku? Bukankah hal tersebut beraneka ragam? Bukankah relativitas menjadi sebuah keniscayaan yang tidak bisa dipungkiri?

Mari kita pahami. Konsekuensi keberagaman tidak berarti menimbulkan relativitas. Misalnya, dalam tradisi Sunda, membungkuk ketika bersalaman adalah bagian dari etika. Namun, beda halnya dengan orang Batak. Hal ini tidak membuktikan adanya relativitas. Bagi masyarakat Sunda hal tersebut merupakan absolutisme kebenaran. Begitu pula pada suku Batak. Inilah yang disebut dengan subjektivitas. Subjektivitas tidak bisa dihukumi dan tidak sama dengan relativitas. Tidak mungkin ada sebuah pertentangan dalam waktu yang bersamaan. Kebenaran selalu mutlak dalam koridornya.

Relativitas memiliki konsekuensi benar atau salah. Bagaimana mungkin kita menggunakan landasan berpikir yang tidak jelas tanpa absolutisme? Prinsip universal berpikir adalah jawabannya. Jika contoh yang digunakan adalah benar menurut A belum tentu benar menurut B, maka landasan yang digunakan pastilah subjektivitas. Unsur subjektivitas antara lain, indera, pengalaman, dan imajinasi. Perbandingan yang memenuhi ketiga unsur tersebut pastilah beragam. Hal ini tidak membuktikan adanya relativitas, tetapi subjektivitas. Alasannya adalah hal tersebut akan selalu mutlak bagi dirinya.

Lalu, dimana letak objektivitas? Objektivitas terletak pada akal melalui prinsip universal berpikir. Misalnya, sebagian lebih kecil daripada keseluruhan, ujung-ujung pada sebuah garis lurus tidak pernah bisa bertemu, hitam itu gelap, dan sebagainya.

Prinsip berpikir, yakni:

a. Prinsip identitas -> Sesuatu adalah sesuatu itu sendiri.
     A = A
    Contohnya, aku adalah aku dan bukan selain aku.
b. Prinsip non kontradiksi -> Mengakui tidak sama dengan mengingkari
c. Prinsip tidak ada pililihan ketiga
    Contohnya, hitam atau putih, benar atau salah, dan lain-lain

Syarat kebenaran, yaitu:
a. Adanya kesesuaian antara konsepsi dan realitas
b. Tidak ada pertentangan dalam diri

Pemahaman menuntut manusia berkonsekuensi atas pengetahuan yang dimilikinya. Ketika kita tahu mengenai salah dan benar, maka akan ada ketidaknyamanan dalam diri jika masih melakukan kesalahan. Jiwa tidak akan pernah terkotori, bukan? Bagaimana pun cara untuk mengelak ketidaknyamanan, sehingga seolah menjadi kenyamanan, kita tidak bisa menafikannya. Keberadaan akan selalu menghasilkan keberadaan. Ketidaknyamanan akan selalu menghasilkan ketidaknyamanan. Misalnya, kita tahu bahwa berbohong adalah sebuah kesalahan. Secerdik dan sesering apa pun kita melakukan kebohongan, bukankah ketidaknyamanan dalam diri tetap ada? Jiwa adalah fitrah suci yang tak akan pernah bisa dinodai oleh apa pun.

Pengetahuan membawa kita kepada pemahaman. Pemahaman membantu kita mendapatkan kesadaran. Kesadaran mengantarkan kita kepada implementasi. Implementasi membawa kita menuju gradasi kesempurnaan sebagai manusia yang lebih tinggi. Selamat berkontemplasi!


Bandung, 26 Mei 2008

Untuk Bumi-5

Pernahkah kita merasa kehilangan? Redam dalam bentuk apa pun namanya. Hanyut dalam penat dan ketakutan. Merasa sendiri dan hampa. Mencium keterasingan dalam kehidupan sendiri. Sulit menekan gejolak. Letih mengalami keterpasungan ide.

Pernahkah kita merasa memiliki? Utuh dalam genggaman dan pelukan. Tak terkotori oleh pengkhianatan siapa pun. Memuja tiap kali tatapan merasuk. Namun, bagaimana bisa kehilangan jika kita pun tidak pernah memiliki? Apakah kita memiliki keluarga, sahabat, kekasih, dan segala hal yang yang menyangkut materi secara esensial utuh? Jika tidak, maka kita tidak perlu merasa kehilangan, bukan? Karena ternyata kita tidak pernah memilikinya. Bukankah pada akhir perjalanan hidup kita pun akan sendiri?

Maka dari itu, ketergantungan terhadap sesuatu yang tidak pernah kita miliki hanyalah ilusi. Namun, bukan berarti menafikan posisi orang lain. Masalahnya terletak pada proporsionalitas saja. Tidak ada salahnya berbagi cerita untuk menjadi lebih bijak demi mencapai gradasi kesempurnaan yang lebih tinggi menuju kehidupan abadi. Mari berbagi!


Bandung, 9 Mei 2008

Untuk Bumi-4

Aristoteles mengklaim  bahwa manusia adalah zoon politicon. Makhluk politik. Makhluk yang terus berinteraksi. Mahkluk yang selalu mempunyai rencana dan strategi yang berujung pada eksistensi dirinya. Makhluk yang membutuhkan bargaining position untuk melancarkan hal tersebut. Kita dituntut untuk menawarkan kemampuan dan kualitas agar tujuan tercapai demi penghargaan dari orang lain. Alamiah, bukan? Tidak ada yang salah selama semua itu dilakukan dengan cara yang benar.

Lalu, mengapa harus melibatkan perasaan dalam pemenuhan tujuan tersebut? Subjektivitas tidak pernah dihukumi. Masuk ke dalam kondisi rumit dan menyakitkan. Konflik mulai timbul. Tersudut dalam kungkungan norma dan terjebak dalam situasi dilematis. Lagi-lagi membutuhkan strategi untuk mengatasinya. Perlu peranan pikiran yang jernih agar konflik terselesaikan.  Tak ada gunanya menutup diri.

Kita bergelut dengan pemikiran sendiri  dan desakan lingkungan.  Gelisah untuk mengambil keputusan.  Namun, lebih baik gelisah dalam mencari kepastian  setelah menemukan sesuatu daripada nyaman dalam ketidaktahuan yang membombardir  kemerdekaan diri, bukan?  Ketakutan kadang terlintas dalam keletihan nurani. Bukankah keseimbangan terjadi setelah timbulnya chaos? Bukankah menyadari kesalahan di masa lalu bisa dijadikan cermin agar kegagalan masa depan dapat diminimalisasi?

Konsekuensi pengetahuan menuntut kita untuk bijak. Tidak mudah bertahan di tengah kecamuk konflik. Tidak mudah pula mengakui kesalahan, kegagalan, dan kekalahan. Kadang berbagi dengan orang lain pun menjadi alternatif untuk bersandar. Namun, bukankah kita lebih sering menjadikan ajang tersebut untuk sebuah penegasan? Penegasan tentang betapa menderitanya diri dan rasa sakit yang dialami.

Keadaan lelah dan menyerah begitu mudahnya menghampiri. Entah kenapa kita pun seringkali larut di dalamnya. Lalu, apakah ada kebanggaan atas sikap menghindar dan menjadi pecundang macam itu? Alur hidup memang fluktuatif. Pernyataan "kita hanya manusia" acapkali menjadi sebuah legitimasi naif dalam kemandulan kreativitas menyelesaikan masalah.

Terlintas pertanyaan sederhana yang menjebak dan menghantam keberanian diri. Sampai kapan kita akan menyerah tanpa menghasilkan apa-apa? Padahal, banyak orang yang membutuhkan uluran tangan dan menyanjung kita. Mengapa kita sendiri merasa tidak berguna di tengah kekaguman tanpa pamrih tersebut? Hidup masih terus berjalan untuk mencapai gradasi lanjut kesempurnaan diri, bukan? Selamat berjuang!


Bandung, 7 Mei 2008

Untuk Bumi-3

Pernahkah kita berpikir alasan untuk melanjutkan kehidupan ke arah yang lebih mapan? Berpasangan, misalnya. Menikah. Apa makna yang ada di baliknya? Hanya sekedar status sosialkah? Hanya karena mengikuti hasrat liar agar terkerangkeng dalam koridor "sah"? Hanya tuntutan keluarga atau lingkungan? Namun, pernahkah kita berpikir alasan paling esensial di balik hal-hal normatif semacam itu? Hal normatif dengan keterbatasan argumen, sehingga terdengar begitu memuakan. Hal normatif yang dibalut dengan gaya konservatif yang mengungkung terkuaknya makna.

Mengapa kita hidup? Untuk apa kita berlalu lalang di dunia yang serba menuntut kesempurnaan? Padahal kita sendiri tidak pernah tahu maksud dari kesempurnaan tersebut. Dogma-dogma berkeliaran memasung pemikiran. Doktrin-doktrin beterbangan mempersempit pandangan. Semua gejala kemandulan pemikiran terus menerobos masuk tanpa henti.

Tahukah kita bahwa hidup adalah untuk menyempurna? Terus menjadi lebih baik. Namun, bukankah kesempurnaan adalah wujud dari tidak memiliki kekurangan? Segala sesuatu bergradasi. Begitu pula kesempurnaan. Maka, kesempurnaan pun akan berubah seiring dengan tingkat pengetahuan seseorang.  Pengetahuan itu berkonsekuensi. Artinya, membutuhkan implementasi nyata.  Fase implementasi dibentuk melalui kelengkapan pengetahuan, sehingga praksisnya pun  akan terlihat setelah pengetahuan tersebut berintregritas dalam diri.

Manusia selalu membutuhkan sesuatu di luar dirinya untuk menggenapkan kehidupan. Esensi segala sesuatu yang dilakukan manusia adalah untuk dirinya sendiri. Kita membutuhkan partner dalam hal apa pun. Dalam hal ini kita kerucutkan ke pernikahan. Titik tolak manusia dalam melakukan sesuatu adalah kenyamanan. Sebelum masuk ke dalam tingkat kenyamanan--yang sesungguhnya sangat subjektif-- kita perlu mengetahui sesuatu tersebut. Kelengkapan pengetahuan menuntut untuk beradaptasi dalam situasi yang kita hadapi. Beradaptasi bukanlah menyerah terhadap realitas, namun bagaimana cara kita untuk tetap bisa menuangkan ide dengan bahasa yang digunakan dalam kondisi sosial tertentu.

Kenyamanan sebagai barometer dalam tindakan manusia membutuhkan unsur keseimbangan. Ketika manusia mencari sesuatu di luar dirinya untuk kelangsungan hidupnya, maka keseimbangan akan menjadi pertimbangan. Keseimbangan dalam pemikiran, emosi, dan tingkah laku sangat berperan penting. Hal tersebut menuntut kita untuk memilih pasangan hidup. Menyatukan jiwa dalam koridor menyempurna menjalani kehidupan karena cinta-Nya. Melanjutkan keturunan akan konsekuensi membangun  masyarakat  dalam sekup kecil. Meneruskan ide dalam rangka berjuang atas semangat mencinta tanpa pamrih.  Bukankah itu alasan kita berpasangan? Kita membutuhkan sesuatu yang bisa melengkapi diri dalam sebuah keseimbangan. Keseimbangan yang kita dapat dalam  kesanggupan menekan arogansi dan egoisme diri untuk kehidupan yang lebih bermakna.

Pernikahan bukan sekedar status sosial. Pernikahan bukan sekedar penyaluran hasrat sah. Pernikahan bukan sekedar hal normatif semu. Pernikahan adalah ajang saling mengerti dan melengkapi dalam rangka terus mendaki kesempurnaan untuk gradasi yang lebih tinggi.


Bandung, 24 April 2008

Untuk Bumi-2

Memaknai makna. Itulah yang cukup tepat dekejawantahkan dalam keterbatasan penulisan kali ini. Menyingkap pengetahuan yang diberikan Sang Maha Kreatif untuk direnungi kemudian dilabeli makna. Mengutip pernyataan salah seorang pemikir dahsyat, Plato, hidup yang tidak direnungi adalah hidup yang tidak layak dijalani. Semenjak Plato mengeluarkan pernyataan-- yang menurut saya begitu cantik—waktu adalah ilusi. Jika semua hal di semesta raya dilingkupi waktu, maka segalanya adalah ilusi. Lalu, tepatlah perenungan yang kemudian dilanjutkan dengan pertanyaan mendasar tentang perencanaan masa depan yang abadi. Apa yang dimaksud dengan keabadian? Apakah materi yang menyelimuti seluruh elemen jagat raya mampu mengantar kita mengenali keabadian inmateri yang agung dan mengerucut ke kesempurnaan Sang Maha Bijak?

Ketika hati meraba dan berkehendak untuk mengetahui segala sesuatu kemudian akal menghukumi dengan klasifikasi sistematis yang spektakuler menuju Dzat Kudus Penggenggam Kehidupan, layakkah kita duduk terdiam mengingkari geliat sentuhan cantik-Nya untuk mencari jawaban? Seluruh elemen kehidupan adalah komposit antara materi dan inmateri—jiwa dan raga. Ketika tiap sudut kehidupan tersusun begitu cantik dan teratur, layakkah pengucilan kehendak dan pikiran terjadi? Ada bahasa yang tersirat dalam setiap tanda kehidupan. Bahasa yang menjadi simbol. Makna selalu tegak berdiri di belakangnya bagi orang-orang yang mau berpikir.

Batu pun berbahasa. Pasir pun memiliki jiwa. Kesia-siaan adalah ketiadaan. Semua berbahasa, sedangkan bahasa memiliki makna. Begitu agung keindahan-Nya yang ternodai ketidaktahuan makhluk-Nya. Ketika cinta Tuhan meliputi makhluk-Nya, ketika hela nafas pun menjadi sebuah tanda kepatuhan mengingat kesempurnaan-Nya, adakah yang masih sanggup menafikan-Nya? Kehadiran-Nya yang inheren tak bisa hanya ditafsirkan secara transendental. Ada efek yang berbicara di balik itu semua. Materi –atau alam kita hidup memiliki massa—hanya penghantar menuju cinta-Nya yang abadi.

a. Stratifikasi Kesadaran, Bebas Terpaksa atau Terpaksa Bebas?

Kebebasan. Sebuah kata yang begitu agung di benak para pemikir dewasa ini. Apakah kebebasan itu absolut? Ataukah tidak pernah ada kebebasan berkehendak dalam diri manusia? Jika kebebasan absolut—dalam arti tidak adanya keterikatan yang dimiliki manusia—maka dimanakah letak Sang Maha Pengatur dengan segala keteraturan yang begitu indahnya berada? Tindakan dan pilihan terletak di bawah hukum-hukum cantik-Nya. Keteraturan yang mengikat alam semesta –termasuk segenap isinya—tunduk terikat di bawah aturan Tuhan dengan keistimewaan keselarasan.

Lalu, dimanakah letak kebebasan memilih? Ketika kita memilih sesuatu, maka hukum Sang Maha Pengatur berinterksi di dalamnya. Misalnya, ketika api digariskan memiliki kekuatan panas, maka apa pun yang bersinggungan dengannya pastilah terbakar. Terlepas digunakan untuk menyulut rokok ataupun membakar rumah. Maka dari itu, keburukan tidak pernah diciptakan Tuhan—mengingat Tuhan tidak memiliki keburukan—namun, hukum sosial kemasyarakatanlah yang menyebabkannya. Perdebatan antara determinisme dan free will cukuplah dihentikan sampai di sini.

Apakah manusia lahir disertai dengan pengetahuan ataukah tanpa pengetahuan yang mengikat? Manusia dilahirkan beserta pengetahuan dan perjalanan hidupnya adalah untuk menyingkap pengetahuannya tersebut. Puji Tuhan Sang Maha Perkasa! Ketika mata melakukan kedipan pertama, seluruh keindahan-Nya bercinta di tiap detak. Segala potensi tertiup menunggu arahan pengemudi. Apakah pengemudi yang dimaksud? Akal Suci. Tempat bernaung segala keelokan Sang Maha Indah untuk menyingkap kebenaran mutlak di muka bumi. Akal Suci yang tanpa kenal dusta. Tempat dimana segala penghukuman terjadi. Letak tertinggi menuju-Nya. Bukankah orang yang mengenali dirinya adalah orang yang mengenali Tuhannya? Berjalan dengan kaki-Nya, memberi dengan tangan-Nya, berbicara dengan lidah-Nya, dan menatap dengan mata-Nya. Puji Tuhan Sang Maha Indah!

b. Akal dan Hati

Perdebatan sengit tak redam hingga kini mengenai posisi akal dan hati. Mana yang lebih dulu? Akal dan hati adalah entitas yang sama, sehingga kedahuluan menjadi tidak bermakna. Pada saat berbicara dengan wilayah rasa, maka dia adalah hati. Ketika bersinggungan dengan wilayah penghukuman, maka dia adalah akal. Keduanya adalah satu kesatuan yang berada di dua koridor. Misalnya, seseorang bersedih. Pastilah hati merasakan kesedihan, sedangkan akal menghukumi bahwa dia bersedih. Akal mengklasifikasikannya dan dengan cermat mengurai runutan kejadian yang menjadi penyebab kesedihan tersebut.

Pemisahan antara akal dan hati tidak pernah ada dalam konsepsi teologi Islam. Keselarasan dan keseimbangan begitu dijunjung tinggi mengenainya. Puji Tuhan Sang Maha Sederhana! Lalu, dimanakah letak keterbatasan akal dalam menginterpretasi dan menembus sesuatu? Keterbatasan akal terletak pada ketidaktahuan kita, namun pengetahuan itu sendiri tidak terbatas. Ketidaktahuan kita menjadi hijab pengetahuan sesungguhnya. Ketidaktahuan menimbulkan rasa takut untuk melangkah.

Dimanakah peran akal saat menembus agama? Kita harus pahami bahwa agama hanya turun kepada makhluk yang berakal. Konsekuensinya adalah ajaran agama harus bisa dimengerti oleh akal. Tuhan tidak akan membebani kita dengan sesuatu yang melebihi kemampuan kita berpikir, bukan? Akal dapat menginterpretasikan seluruh aturan main agama selama pengetahuan kita tidak terhalang dengan hijab-hijab kebodohan dalam merasionalisasikannya. Terlebih jika kita berbicara tentang Islam dengan klaimnya  rahmat bagi seluruh alam. Artinya, tidak ada penolakan untuknya karena dia adalah konsepsi penutup yang sempurna. Bagaimanakah rasionalisasi dapat menolaknya? Tuhan menciptakan agama untuk membebaskan manusia dari kebodohan. Lantas apa yang menjadi barometer mengenali dan menyingkap-Nya? Akal. Selama Akal Suci masih tertancap kokoh –mengingat Tuhan tidak pernah berdusta untuk selalu memberi petunjuk tanpa memilih dan memilah makhluknya—akal senantiasa menjadi tempat paling teduh untuk bercinta dengan-Nya. Petunjuk suci tanpa cela. Pembeda paling signifikan antara manusia dengan makhluk lain, sehingga manusia menempati stratifikasi tertinggi.

Bagaimana dengan hati yang penuh dengan keyakinan? Perlu diketahui bahwa keyakinan adalah efek lanjut dari pengetahuan yang dimiliki. Semakin tinggi pengetahuan, maka semakin tinggi pula keyakinan yang didapat. Misalnya, kita yakin Tuhan itu ada karena kita memiliki pengetahuan tentang-Nya. Mencoba mengenali-Nya. Mengetahui keberadaan-Nya. Jangan terjebak dengan pemikiran kaum materialis yang mengklaim bahwa mengetahui keberadaan-Nya dengan cara mengindera-Nya! Bukan itu yang dimaksud. Kita membicarakan eksistensinya bukan esensinya dengan keindahan realitas tunggal-Nya. Bukankah ketika kita tergerak untuk memikirkan-Nya, Dia telah menjamah kita terlebih dahulu –mengingat kehadiran-Nya begitu melekat dalam diri makhluk-Nya. Cinta-Nya selalu mendahului murka-Nya. Cinta-Nya senantiasa melingkupi segenap makhluk-Nya. Keberadaan-Nya menjadi misteri mengagumkan. Maha Nyata sekaligus Maha Tersembunyi.

Bukankah hal ini sangat kontradiktif? Perlu diingat bahwa kontradiksi terjadi karena adanya dua keadaan yang bertentangan dalam satu koridor atau waktu. Dia menjadi Maha Nyata dalam perspektif kecantikan ciptaan-Nya. Dia menjadi Maha Tersembunyi ketika kita mencoba menyentuh esensi-Nya. Bagaimana dengan Maha Awal sekaligus Tidak Berawal? Dia Maha Awal dalam perspektif penciptaan makhluk. Dia menjadi tidak berawal dalam perspektif  diri-Nya. Jika dia berawal, maka artinya dia mengalami ketiadaan terlebih dahulu, namun itu tidak layak untuk disandarkan pada-Nya. Tidak ada yang kontradiktif dalam diri-Nya dan segenap keindahan ciptaan-Nya.

c. Penghukuman

Wacana yang menarik untuk dibahas selanjutnya adalah surga dan neraka. Surga begitu agung menjadi berhala kedua setelah konsepsi paganisme—tuhan-tuhan buatan manusia—sehingga Tuhan sesungguhnya menjadi subordinat kaum pencari surga. Neraka begitu menakutkan, sehingga orang beribadah dengan rasa takut. Pernahkah terpikir mengapa Tuhan menciptakan iblis dan benarkah iblis melakukan kesalahan? Benarkah iblis begitu layak untuk dibenci?

Sebelum Adam tercipta, bukankah makhluk-makhluk inmateri –Iblis dan malaikat—tercipta lebih dulu? Interpretasi liar saya berpikir bahwa ketika Tuhan menyuruh iblis bersujud –walaupun tafsiran ayat ini berupa semiotika—iblis berkata, ni Tuhan mau ngecek gw ato gimana? Katanya jangan sembah selain Dia tapi iseng-iseng nyuruh nyembah orang? Ogah banget gw! Wajarlah ketika itu mereka enggan dan diberi predikat sombong. Padahal jika kita telaah lagi, kesombongan iblis itu untuk cerminan kita. Konsistensi iblis sangat luar biasa. Demi cintanya pada Tuhan, mereka rela menjadi musuh bersama umat manusia. Bukankah dinamika kehidupan terjadi dengan kehadiran iblis? Bukankah menggoda manusia adalah tugas mereka untuk mendapatkan posisi terbaik dalam cinta Tuhan? Kita bisa menganggap mereka menyedihkan karena calon-calon penghuni neraka. Sekali lagi kita terjebak dengan simbol-simbol propaganda surga dan neraka! Neraka yang tercipta dari api –simbol  penyesalan dan penderitaan abadi—dimasuki  oleh iblis—tercipta dari api juga—maka, selesai sudah! Mengutip pernyataan Imam Ali, jangan melihat siapa yang bicara, tetapi dengar apa yang dibicarakan walau setan sekali pun! Segalanya menjadi istimewa ketika kita telaah lebih lanjut, bukan? Tentu segala ketentuan-Nya hanya berlaku bagi mereka yang berpikir.

Lalu bagaimana dengan klasifikasi pelaku ibadah? Mari kita cermati bersama! Ada tiga tipe orang beribadah. Pertama, dengan klasifikasi terendah, seperti budak kepada majikan. Tipe seperti ini adalah mereka yang beribadah dengan rasa takut. Penuh intimidasi. Makanya jangan pernah maksa-maksa orang buat beribadah. Jadi ibadahnya jangan-jangan karena takut ama kita lagi! Jangan-jangan juga kita jadi Tuhan buat orang yang kita suruh! Kedua, opportunis --orang beribadah seperti pedagang-- ingin mendapatkan keuntungan dan begitu perhitungan dengan amalnya. Ketiga , dengan klasifikasi tertinggi dan luar biasa, orang beribadah karena cinta. Orang-orang seperti ini melakukan segala sesuatu karena cinta kepada-Nya bukan untuk cinta-Nya karena tidak terhitung cinta Tuhan yang menjadi cahaya di setiap aliran darah kehidupan. Ada sebuah ungkapan sufi yang berkata bahwa lebih baik melakukan maksiat dengan cinta daripada beribadah tanpa cinta. Puji Tuhan Sang Maha Indah!

Oleh karena itu, hendaknya tiap amal yang kita lakukan dipenuhi karena cinta kepada-Nya bukan memperhitungkan seberapa besar pahala yang didapat. Ketika cahaya cinta Sang Maha Kudus senantiasa menyinari kehidupan, layakkah kita meminta imbalan dari kebaikan yang dilakukan? Ketika semua yang kita miliki adalah pemberian-Nya yang agung, masih layakkah kita meminta surga? Apakah kita menyembah surga sebagai bentuk berhala lain menyekutukan-Nya? Puji Tuhan dengan segala pengertian-Nya! Lakukanlah ibadah dengan cinta dan matilah karena cinta kepada-Nya!

Lantas, bagaimana dengan nasib saudara-saudara kita, selaku makhluk Tuhan  yang berbeda agama? Layakkah mereka masuk surga? Hal pertama yang perlu diperhatikan adalah Dia tidak pernah menciptakan kesia-siaan. Bagaimana mungkin dia menciptakan makhluk tanpa petunjuk kemudian memasukannya ke neraka hanya gara-gara bukan Islam? Adakah manusia yang bisa menafikan fitrah suci dalam diri? Adakah kekuatan lain yang lebih dahsyat dari Tuhan? Tentu tidak! Maka, tidak ada yang bisa mengingkari-Nya. Ketika manusia meyakini ada sesuatu di luar dirinya yang maha dahsyat, itulah Tuhan dalam perspektifnya karena fitrah manusia adalah bertuhan. Hal terpenting adalah perspektif  Tuhan dalam pikiran manusia –terlepas tuhannya adalah teknologi, alam, atau yang lainnya--bersifat ada, esa, dan sempurna. Intinya adalah keyakinan bertuhan, memiliki nabi, percaya kepada hari akhir—dengan konsepsi keberakhiran alam semesta dan pembalasan yang agung—maka berpotensi masuk surga.

Sekarang bagaimana dengan saudara-saudara kita di suku primitif pedalaman? Hal yang perlu dipahami adalah Tuhan tidak pernah membiarkan kita tanpa petunjuk. Sekali lagi, petunjuk paling dekat untuk berkomunikasi dengan-Nya adalah melalui Akal Suci. Signifikansinya terletak pada pemahaman penduduknya bahwa menunjuk dan memiliki pemimpin adalah fitrah manusia. Kualifikasinya ditentukan oleh kebutuhan dan sejauh mana pengetahuan penduduk tersebut. Bukankah manusia selalu melakukan segala sesuatu berdasarkan pemahaman? Maka, Tuhan pun menghukumi kita berlandaskan pengetahuan yang dimiliki. Puji Tuhan atas segala keadilan-Nya!

Salahkah perilaku suku primitif pedalaman karena tidak sesuai dengan aturan Islam? Tentu saja tidak. Dari uraian di atas kita bisa menyimpulkan bahwa memiliki pemimpin adalah fitrah manusia–terlepas kemasan cara—sehingga instruksi pemimpin yang tidak sembarangan tersebut–mengingat representasi penduduk dengan segala mekanisme penunjukan—adalah aturan main jalannya roda ritual dan sosial kemasyarakatan. Kepala suku, misalnya. Lain halnya jika mereka masuk Islam, maka harus mengikuti aturan yang ada di Islam.

Mari kita menilik konsepsi agama Yahudi dan Nasrani. Apakah mereka termasuk orang-orang tersesat? Tuhan menunjuk langsung para nabi dan rasul untuk memimpin komunitas sosial kemasyarakatan dan praktek ritual, bukan? Puji Tuhan sang Maha Benar! Pertanyaannya, apakah Yahudi yang disebarkan Musa dan Nasrani yang dibawa Isa menjadi salah? Bukankah Musa dan Isa ditunjuk langsung oleh Tuhan serta esensi dari ajarannya adalah keesaan Tuhan? Mengapa terjadi konsepsi trinitas, misalnya, di tengah masyarakat? Inilah yang kita sebut dengan distorsi sejarah. Maka dari itu, peranan mempelajari logika secara sistematis sangat darurat untuk mengevaluasi ideologi, kondisi sosial, sejarah, dan agama.


Bandung, 24 April 2008

Untuk Bumi

Menggugat banyak hal memang cukup melelahkan. Akal meraba-raba jalan keluar yang membingungkan. Hidup masih terus berjalan, bukan?

Mengamati terus menerus. Kita mencintai kebebasan dalam berpikir. Ada kalanya harus diam. Ada waktunya banyak bicara. Merasa dikhianati oleh diri sendiri. Tertekan akan ternodanya arus liar penolakan kebenaran. Menyakitkan. Absolutisme begitu pekat. Tak ada yang  lepas dari penghukuman.

Penolakan bertubi dari kaum fakir yang menolak kehadiran diri. Letih.  Apa yang mereka inginkan dari kebodohan massif ini?  Tidakkah mereka mengerti bahwa apatisme adalah sebuah penegasan arogansi dalam ketidaktahuan? Bukankah keraguan yang menimbulkan kegelisahan diri kemudian mencari tahu makna lebih baik daripada kenyamanan dalam kebisuan? Ada apa di benak mereka?

Tuduhan demi tuduhan gencar mencaci. Apakah ini adalah representasi dari keterpurukan pemikiran masal? Tersudut dalam ketidakpedulian dan determinisme. Fatal. Kerinduan akan kejujuran jiwa. Tidakkah ketulusan menghujam hati? Mengapa lebih memilih untuk lari ketika jalan terbuka lebar?

Tangisan saja tidak cukup. Biarkan saja berceloteh. Meracau. Memaki. Bebaskan diri dari kungkungan pragmatisme. Kian berserak kaum kafir intelektual! Makin banyak penyembah berhala kepalsuan berbalut kenikmatan abadi. Tidakkah disadari kondisi memprihatikan memaksa berubah? Apakah diam adalah pilihan? Ataukah menyerah terhadap garis kelam fatalisme menghantam dalam posisi yang dikondisikan? Hayati gaung akal yang mendongkrak kehidupan.

Para retoris dungu mencerca. Kita lelah dengan ajaran berani mati. Kapankah kita diajari berani hidup? Dikotomis dan pragmatis dalam penipuan global menjadi racun-racun pemahaman yang begitu layak didekonstruksi. Runtuhkanlah pembodohan yang merusak ini! Adakah nurani tertutup? Bergeraklah! Sekecil apa pun itu.

1. Misi Agama: Membangun Peradaban

Tak ada yang lebih berbahaya ketimbang keagamaan tanpa akal budi. Keagamaan yang dilandasi semangat absolutisme lebih mengerikan dibandingkan dengan sekularisme yang penuh keadilan dan kerendahan hati. Sufi agung, Ibn Athaillah Aliskandary, dalam karya besarnya Al Hikam menulis, “Dan sekiranya engkau berkawan seorang bodoh yang tidak menurutkan hawa nafsunya, lebih baik berkawan seorang alim yang selalu menurutkan hawa nafsunya. Maka ilmu apakah yang dapat digelarkan bagi seorang alim yang selalu menurutkan hawa nafsunya itu? Sebaliknya, kebodohan apakah yang dapat disebutkan bagi seorang yang sudah dapat mengekang hawa nafsunya?”

Menurut Ali Syariati dalam bukunya Agama versus “Agama”, yakni: “Sepanjang sejarah, agama tidak berkonfrontasi dengan non-agama. Agama berkonfrontasi dengan “agama”. Agama selalu berjuang melawan “agama”. Agama monotheisme yang berdasarkan kesadaran, wawasan, cinta, dan kebutuhan sesorang, primordial, kebutuhan filosofis, berdiri berhadapan dengan agama yang lahir dari kebodohan dan ketakutan. Sementara musuh agama adalah taghut yang menyuruh umat manusia untuk melawan sistem kebenaran yang mengatur alam dan kehidupan, menimbulkan perbudakan dan bermacam berhala yang mewakili berbagai kekuasaan masyarakat. Siapakah taghut ini? Mereka adalah menurut Kitab Suci Al Quran, para aristokrat yang kaya, mala’, dan orang-orang serakah yang hidup dalam kemakmuran dan kemewahan, mutrif, orang-orang yang berkuasa di masyarakatnya sendiri tanpa punya rasa tanggung jawab… Berkuasa baik dalam cara yang jelas-jelas atas namanya sendiri maupun dengan melindungi dirinya di bawah kedok agama Tuhan dan rakyat.”

Maka dari itu, sudah seharusnya kita memberikan pemahaman agama yang sosiologis kepada segenap elemen bangsa. Bukan hanya sibuk dengan wilayah ritual transendental saja, tetapi juga melihat sisi Islam dalam konsep universal tanpa dikotomi. Tidak hanya berkeringat mengajari cara shalat dan mengaji yang benar, tetapi juga bermasyarakat yang utuh. Hal tersebut dapat dilakukan dengan dialog dan diskusi, bukan dengan ceramah doktrinasi anti kritik yang menyebabkan kemandulan pemikiran dalam beragama agar kita tidak termasuk kaum sekularis diam-diam.

2. Urgensitas Filsafat dalam Peradaban Manusia

Manusia adalah makhluk yang berpikir. Akal adalah satu-satunya pembeda dengan makhluk lain. Esensi hidup dalam perspektif sufisme adalah penyatuan dengan-Nya, sedangkan dalam teologi adalah kesempurnaan menuju-Nya. Memahami wujud realitas tunggal-Nya adalah jalan termudah menyingkap segala bentuk esensi.

Maraknya kasus penjualan agama adalah bentuk pelacuran pemikiran atas dogma-dogma pembungkaman fitrah. Peracunan pemahaman dalam hegemoni materialistik anti kemapanan yang dibubuhi melalui gaya hidup, tontonan, bacaan, dan lain-lain. Ironisnya, di tengah masyarakat dunia dengan semangat isu globalisasi beserta perangkat penemuan mutakhirnya, kita masih berkutat dalam pelarangan dan filtrasi buku –tanpa dievaluasi terlebih dahulu—tanpa sadar mengamini pemikiran yang sama sekali di luar Islam. Sungguh kebodohan terselubung! Alih-alih mendiskusikan perkembangan isu hangat dalam rangka memperluas wawasan dan keimanan, kita malah sibuk menghindari ajang diskusi dengan dalih membuang waktu. Sementara itu, pemikiran sesat dari luar Islam mengakar dan mendarah daging dalam tubuh tanpa kita sadari.

Pemisahan pengetahuan dari agama adalah langkah naïf yang harus dikikis. Ketidaktahuan sebagai penyebab terjungkirnya pemahaman kian dirawat dalam kampus atau institusi yang seharusnya memajukan intelektualitas bangsa. Ketika upaya dialog dan diskusi dibuka sebagai sarana pembebasan keyakinan buta, begitu mudahnya vonis kafir dan sesat terucap. Inikah yang disebut dakwah? Pemahaman adalah langkah awal membuka tataran praksis yang lebih bernilai. Namun, kita seringkali tidak mau membuka diri dengan orang lain yang berbeda dengan dalih keterbatasan akal agar bisa menyembunyikan doktrin turunan yang pragmatis dan dogmatis.

Perbedaan sebagai anugerah Tuhan dinafikan dengan menghindari dialog terbuka. Mohammad Hatta berkesimpulan bahwa agama adalah sesuatu yang tidak bisa diperdebatkan. Inilah yang menjadi senjata untuk menjauhkan diri dari diskusi-diskusi keagamaan. Padahal, agama yang dimaksud Hatta adalah spiritualitas individu dalam koridor transendental. Lucunya, saat pernyataan tersebut digunakan, kita juga menyerang wilayah ritual transendental orang lain yang tidak relevan dengan bahasan sosiologis keagamaan. Ketika pengetahuan menjadi ejekan, lantas apa yang dibanggakan dari kesempurnaan Islam sebagai agama penutup yang memiliki klaim rahmatan lil ‘alamin? Beginikah sikap umat Muhammad dalam tantangan pluralitas zaman sebagai pemberian agung Sang Maha Bijak? Menyingkirkan fitrah perbedaan dengan teks-teks suci. Sungguh kesesatan yang nyata!

Ketika upaya mengungkap esensi menjadi keharaman yang entah dari mana, layakkah kita terjebak dalam kedangkalan pemikiran macam itu? Tindakan apatis –arogansi dalam ketidaktahuan—begitu tumbuh subur di kalangan “orang-orang suci”. Di satu sisi mereka menolak kesombongan untuk tumbuh dalam diri, namun di sisi lain arogansi merasuk dalam pemahaman konvensional –menolak pemikiran baru yang “merusak” iman--. Buruknya, eksklusivitas yang dirawat tersebut menghilangkan kesadaran betapa kesombongan begitu melekat dalam “diri suci” mereka. Bukankah penyerahan jiwa berbekal pengetahuan suci adalah tindakan yang tepat dibandingkan dengan kepasrahan beribadah dalam dogma yang menyiksa diri tanpa tahu apa-apa?

Simbol menjadi berhala atas kepatutan kesalehan. Betapa seringnya kita mempermasalahkan bentuk kerudung atau jilbab daripada menyingkap esensi di balik hijab. Orang-orang bercap hitam di kening dinilai rajin shalat. Kerudung yang mudah terbang –saking besarnya—dianggap wanita saleh tak terjamah. Namun, kita tidak berusaha menyingkap pemahaman mereka –entah karena sarana yang minim atau sikap tertutup yang seragam—untuk berbagi pemikiran. Perbedaan ideologi dijadikan hambatan. Bukankah keberagaman tidak patut dihindari selama adanya keterbukaan pemikiran? Kemerosotan intelektual ini menyebabkan keterpurukan perilaku kemanusiaan yang seharusnya tetap tumbuh secara alami tanpa racun-racun doktrinasi dogmatis.

Stagnasi yang ada dengan mudah tercipta atas terpeliharanya doktrin-doktrin usang. Layakkah menyebut diri sebagai “orang baik-baik” tanpa berani menyibak esensi keagungan-Nya yang suci? Bukankah hal tersebut adalah pilar dalam proses kematangan untuk lebih bijak dan holistik? Sungguh penodaan terselubung dalam ketidaktahuan konsepsi kesempurnaan suci keagamaan!

Apakah kabut hitam apatisme umat beragama kian tebal, sehingga kita begitu menutup mata akan esensi keberagamaan yang sesungguhnya? Apakah kita termasuk umat yang mengamini kemunduran peradaban yang disabdakan Muhammad? Apakah menunggu kedatangan Imam Mahdi dan berdoa agar keadaan menjadi lebih baik serta berharap mukjizat datang begitu saja dari langit tanpa berbuat apa-apa adalah jalan terbaik? Ataukah kita akan terus larut dalam romantisme sejarah Perang Salib atas terpuruknya keadaan umat?

Cukup sudah dosa sosial yang diciptakan para pendahulu untuk mengebiri hak mempertanyakan sesuatu yang “haram”. Buka sejarah baru dengan semangat kemanusiaan berlandaskan pengetahuan. Apakah kita dengan mudah menyerah hanya dengan cap kafir yang dituduhkan tanpa validitas referensi? Padahal orang-orang yang melabeli kafir pun “bercinta” dengan para penindas rakyat agar acuan kerja dalam institusi atau kurikulum dunia pendidikan tersusun sedemikian rupa untuk kemandekan intelektualitas. Bisa jadi kita pun termasuk klasifikasi pendosa masal itu.

Betapa mengerikan kepungan skenario global saat ini! Jalan satu-satunya adalah berani membuka diri atas sesuatu yang baru dan penuh kesadaran mempelajari filsafat secara utuh. Bukankah yang dapat menguasai daratan dan lautan hanya orang-orang yang berilmu? Lalu, bagaimana nasib umat ketika hajat hidup orang banyak tersebut dikuasai para penindas tanpa kita sadari? Masihkah kita tetap sibuk melakukan ritual tanpa mau membuka tirai bermasyarakat? Ataukah kita memang hanya menginginkan keindahan surga dan kesuksesan dunia untuk diri sendiri tanpa mau berbagi pengetahuan dengan sesama? Apakah kita mengira Tuhan akan memberikan surga-Nya hanya karena ritual? Apakah kita berhak menuntut-Nya atas perbuatan di dunia dengan mental pedagang yang menginginkan keuntungan? Ataukah surga telah menjadi berhala sehingga ibadah yang kita lakukan melupakan keagungan-Nya dalam esensi ibadah itu sendiri? Kita mungkin memang tak pernah ingin tahu makna pemimpin di muka bumi. Kita hanya menghitung pahala dan memimpikan surga untuk diri sendiri dan melupakan cinta-Nya yang mengizinkan nafas berhembus. Masih layakkah kita menuntut surga-Nya? Ketika seluruh alam bertasbih menyebut nama atas cinta-Nya yang abadi untuk seluruh makhluk, kita tak pernah berusaha mencintai-Nya. Kita lebih merindukan surga daripada Dia. Ataukah kita memang tak pernah mengenali-Nya dengan segenap cinta yang Dia berikan?


Bandung, 8 April 2008