Tampilkan postingan dengan label bintang barat daya. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label bintang barat daya. Tampilkan semua postingan

Kamis, 16 Agustus 2012

Bintang Barat Daya-12

Lebih dari sebulan yang lalu, asing mengigau pagi. Mencium wangi kopi dan rindu yang beraroma kamu. Menghisap batang-batang rokok yang seringkali membuat mual. Memandangi ulang cerita kita saat aku baru terbangun, sedangkan kau pulang bekerja. Mengumandangkan sajak penuh khidmat menuju mimpi dimana kita bisa saja beradu tangis dan tawa.

Ingin sekali membenahi rambutmu yang tak teratur saat kau merasa ada lelah yang memaku tiap malam dan duduk menikmati secangkir teh hangat dicampur madu. Hilang itu masuk ke dalam bab baru buku kita, bintang barat dayaku. Kehangatan yang terurai berjalan menjauh, nafasku. Sesaat sebelum Natalmu yang agung. Perih ini terbagi dengan tirai yang sama-sama terlupa. Segenggam tulus yang terangkum dalam puisimu tak sanggup aku baca. Untukmu, aku kehilangan bahasa.

Baru saja ingin belajar bercumbu dengan rentetan senyum yang kau tuangkan di serat-serat kayu, kita bersepakat untuk menyudahi bau embun. Aku sendiri. Kau pun sendiri. Tahun baru kali ini kita sama-sama membiasakan diri untuk tidak berguru pada masa. Tak kenal sapa. Damai di bumi, damai di surga. Damaikan hati. Selamat Natal untukmu di sana.


*terinspirasi Celine Dion featuring Paul Anka - It’s Hard to Say Goodbye di tengah keagungan pagi yang mulai sunyi


Bandung, 17 Desember 2011 

Bintang Barat Daya-11

Mungkin ada yang kau sembunyikan. Duhai, jika aku bisa membaca ruang-ruang hampa itu, barangkali kau tak usah mengaku ada tiang pancang yang sengaja memasung langkah. Harapku menjadi usai jika sebilah rasa mulai menusuk degup yang aku dengar sejak syair itu tertulis. Tak semudah yang  kau tiupkan pada tiap benalu berwarna rupawan di goresan malammu, bintang barat dayaku. Sedikit demi sedikit hasrat ini milikmu. Aku rebahkan tiap hari kebersamaan kita di dalam pigura-pigura yang suatu saat mampu bicara.
 
Kau menghela nafas panjang, sedangkan aku menghirup segala perih. Senyum kita kali ini terhenti. Bolehkah aku sebentar saja mengusap pipimu dan jatuh dalam dekap agar kita sama-sama berbagi rasa yang sulit diterjemahkan kata? Aku duduk dalam geram kala masa lalu itu ikut hadir dalam cerita yang baru saja kita tetapkan mulanya. Lalu, dimanakah nilai kesucian rasa?
 
Bila saja dinding hatimu yang mulai dingin itu sanggup aku hangatkan dalam tungku puisiku, selamanya kita bisa menyederhanakan semesta yang kerap bergurau. Mari kita tujukan resah ini pada hujan! Agar segala penat larut dan menyatu dengan bumi. Bisakah aku memintamu untuk memberi tahu lipatan rapi yang kau simpan di lautan benak yang belum mampu aku jangkau? Beri tahu aku julukan yang kau lekatkan pada rantai pekat ini, bintang barat dayaku.
 
Jangan dulu tidur sebelum aku menyiapkan selimut jiwamu. Aku tahu kau hanya mencoba berdiri. Katakan padaku bahwa kau membutuhkanku memapahmu sekejap saja. Lihat aku yang masuk ke dalam matamu yang sayu. Aku tahu ada ingatan tajam disana. Sebelum itu sanggup menghujam, sisakan waktu agar aku bisa menangkap ujungnya saja. Itu pun tak mengapa.

 
*terinspirasi dari obrolan panjang yang melelahkan di suatu pagi.   


Bandung, 29 Oktober 2011

Bintang Barat Daya-10

Dulu kita pernah bersepakat untuk tidak membahas satu hal. Hampir dua tahun berlalu dan kita hanya membicarakannya tiga kali saja. Jangan tergesa menarik mimpi. Aku ucapkan itu padamu dan tadi pagi aku ingatkan lagi. Peluang itu milik kita tentu. Namun, kita bisa menyusun balok-balok kecil dulu. Membuatkan mainan anak-anak. Kita pun bisa mengatur lego dengan cantik, bukan? Warnanya hanya beberapa. Bentuknya hanya sedikit. Tapi dari sana kita bisa membuat apa pun. Ada miniatur kota, robot, atau bahkan dinosaurus.
 
Gambarmu buram dan suaramu tak jelas. Sesekali gaduh. Gerakan tampak tidak natural. Kotak-kotak. Obrolan terhenti sesekali. Kita sama-sama mengecek koneksi. Ah, ya, hubungan hati kita pun sesekali tidak sejernih sambungan langsung internasional. Matamu sayu, bintang barat dayaku. Hanya itu yang seringkali aku lihat. Kau mengeluh lelah dan acapkali mengutuk para politisi yang memainkan peran buruknya di negara. “Tak semua negara maju menyenangkan,” itu katamu selalu, “kami hanya dipoles sana sini untuk terlihat manis, namun nyatanya sama saja”.
 
Aku pun mengurut garis-garis khatulistiwa yang semrawut. Tampak buruk dari luar dan membusuk di dalam. Tujuh jam membentang seakan menggoyangkan jari telunjuknya. Kau tak tidur, sedangkan pagiku tersita hingga jam makan siang. Tiga atau empat kali seminggu kita lakukan itu. Mengurai gelisah di sudut-sudut cerita. Mempertemukannya di awal ucap. Merangkai titik-titik abstrak yang meracau dan membenamkan kita dalam-dalam. Ya, kita barangkali hanyut dalam samudera dan tak peduli betapa jarak menjadi binal. Ketika pun kita akui, kita hanya sanggup terdiam. Sibuk menerka. Akankah waktu bisa kita giring menuju sebuah makan malam bersama lagi?
 
Dulu kau sempat berkata padaku, ajarkan aku lima kata per hari agar aku bisa berbicara dalam bahasamu. Aku pun menjawab, aku akan lakukan itu, sedangkan kau ajarkanku untuk membacamu. Itu saja. Membuka ulang perlahan kitabmu barangkali tak ‘kan sampai tamat. Kita tak perlu membaca hingga usai karena ketika akhir itu tiba, kita akan saling menghempaskan. Kita sudah sejak jauh-jauh hari sepakati itu, bukan? Atas iman kemanusiaan dan cinta bagi semesta, kita mencoba bernegosiasi dengan dunia. Kita belajar mengendapkan masa lalu.
 
Mungkin kita terlambat bertemu, sahutmu dulu. Tidak, kita tak pernah terlambat. Rasa bukan ilmu pasti yang penuh dengan angka dan bisa dikalkulasi. Rasa memiliki ruang dan waktunya sendiri. Dia melekat. Dia tak pernah datang dan pergi seperti orang lain bilang. Dia memilih sendiri. Kita bahkan tak pernah bisa mengatur alurnya. Kita tak bisa memilih siapa yang bisa menghampiri rasa.
 
Menebak harimu dan meretas haluan jalan kita, itu yang masih aku renungkan. Aku bisa membaca ribuan buku, jutaan koran, dan yang lainnya. Tapi aku tak bisa membaca pikiranmu saat kau membisu. Kita bukan lagi harus belajar membaca, tapi juga bicara. Mengutarakan maksud dengan santun dan bernyanyi dengan merdu. Kita sedang membuat cerita pendek yang masuk ke dalam buku kehidupan. Kita sedang membuat titik-titik yang suatu saat kita akan tahu garisnya. Ini kita. Kita yang mencoba menghantam peluang. Kita yang seringkali membebankan segala jawaban pada waktu, namun kita lupa menyiapkan pertanyaannya.
 
Setidaknya, kita masih bergenggaman tangan. Kita bukan mereka yang sibuk publikasi di hiruk pikuk maya atas sebuah kebersamaan dan saling menyahut. Ini kita. Kita yang enggan sama dengan mereka. Kita yang menuangkan mimpi dan merajutnya ke dalam puisi dan prosa. Kita yang mencoba berdamai dengan berselimut bersama. Kita yang ingin memerdekakan satu sama lain.
 
Siapa peduli dengan cerita mereka tentang altar temaram shahih, bintang barat dayaku? Kita bersama bukan untuk mereka. Bukan untuknya. Bukan untuk pesta pora. Bukan untuk sekedar sumpah agung. Kita bersama karena diri kita sendiri. Ikrar itu terlalu suci untuk dinodai ketakutan karena mereka. Terlalu indah untuk dicurangi hasrat bercinta. Kita bersama karena kita sendiri, aku ulangi. Untuk menyempurna bersama. Itu lebih dari cukup.

 
*terinspirasi dari puisi Deni Kurniadi, babak rencana-rencana.   


Bandung, 17 Juli 2011       

Bintang Barat Daya-9

Belum genap sebulan, pertengkaran kecil yang masih aku ingat jelas itu terjadi. Dini hari waktu Indonesia bagian barat dan beberapa jam setelah makan malam waktu Inggris barat daya. Hitungan nol derajat yang dikiblati seluruh dunia. Satu jam kita mencoba membendung marah. Aku tekankan lewat intonasi, sedangkan kau lebih banyak diam dan sesekali berkata pelan.

Ini masalah remeh temeh yang tak perlu membuat kita nelangsa. Kita sama-sama tak perlu digurui untuk hal itu. Tenggorokanku mulai sakit. Ada yang terhenti disana. Jarak ini melelahkan, bintang barat dayaku. Ini pualam kita. Belum terukir apa pun. Bentuknya saja masih absurd. Kita perlu percantik. Masih banyak waktu yang kita punya.

Kita bicara lagi soal benua, samudera, dan segala hal yang bahkan membuat muak. Adakah aku memang harus mengakrabi waktu lagi? Ini bukan lagi tentangmu. Ini aku! Di akhir, kita lebih banyak diam. Aku melihat jam di meja. Pukul 4 pagi. Kau berkata, “seharusnya waktu tidurmu tak lagi terganggu. Biarkan aku saja yang tak tidur untuk sekedar bicara denganmu. Barangkali kau kelelahan. Bagaimana jika kau tidur dan belajar berpura-pura bahwa aku memelukmu disana?” kau mulai bergurau.

“Apa yang harus kau takutkan lagi?” tanyamu, “aku tak akan pernah pergi seperti yang dilakukannya padamu”

“Siapa yang kau bicarakan?” aku terusik.

“Kau pikir siapa? Laki-laki bodoh yang sempat kau bicarakan padaku. Pecundang itu bukan sifatku”

“Siapa yang menyuruhmu bicara tentangnya? Ini tak ada hubungannya dengan dia”

“Aku ada untukmu, tidakkah kau tahu itu? Aku seringkali tak tidur untuk menghabiskan malam bersamamu. Aku juga sering terlambat bekerja. Aku lakukan itu untukmu”

“Bisakah kau tak perlu memulai pembicaraan tentangnya? Aku bahkan tak pernah bicarakan hal itu lagi denganmu sejak dua tahun yang lalu. Aku tak pernah membandingkanmu dengannya,” aku mulai berdusta lagi.

“Lalu, apa yang kau minta? Aku tahu aku masih sulit membuatmu bahagia. Tapi, aku berusaha untuk itu. Tidakkah kau tahu bahwa ini menyakitiku, tiap kali kau bicara tentangnya dan seperti orang dungu aku masih juga mendengarkanmu? Puisi yang aku tulis dulu bukan untukmu yang perih menunggunya, tapi untukku sendiri. Itu yang tak kau sadari”

Aku mulai mencari tisu dan mengelap air mataku. Aku tak pernah tahu itu. Aku pikir kau begitu memperhatikan hubungan kami saat itu. Aku barangkali lebih dari naif.

“Aku menunggumu tiap malam. Aku memberikan pesan-pesan singkat yang tak pernah kau balas. Jika pun kita bertemu tak sengaja, kau membalas sapaku dingin. Tahukah kau bahwa aku sempat letih menunggumu?”

Aku terdiam lagi. Menahan isak dan berharap kau tak mendengarnya. Aku pun terluka. Bukan karena dia. Tapi, karena diriku sendiri. Mengayun sudah rasaku. Aku menyalakan rokok. Mencoba menenangkan pikiranku sejenak sambil mendengarmu bicara.

“Jangan menangis, sayang,” kau pelankan suaramu, “apakah aku membuatmu terluka?”
Aku masih tak menjawab. Aku lemparkan rokokku. Tak terbendung lagi. Aku terisak.

“Aku sedih jika kau begini,” sahutmu.

“Aku membutuhkanmu. Itu saja,” kali ini aku yang pelankan suara.

“Aku tahu,” katamu, “ada sebotol anggur disini. Jika kau di sampingku, aku hanya akan memberimu segelas saja. Tak akan lebih. Lalu, aku menyuruhmu tidur. Aku berjanji, esok pagi aku tak akan bekerja karena aku akan menemanimu. Aku tak ingin mendengarmu menangis lagi ketika aku jauh dan tidak bisa berbuat apa-apa. Ini membuatku terlihat bodoh”

“Kau tidak bodoh. Aku yang terlihat bodoh”

“Ya, baiklah. Kau memang bodoh. Tapi, kau adalah si bodohku. Dan aku tidak ingin si bodohku menangis lagi,” kau bergurau lagi. Aku mulai tersenyum.

“Aku menyukai senyummu” katamu.

Tak ada kata maaf ataupun dimaafkan. Obrolan kita kembali seperti biasa. Aku bercerita tentang anjing-anjing, sedangkan kau bercerita tentang kegiatanmu. Dalam hati, aku tertegun. Aku bahkan tak ingat lagi kau bicara apa. Aku melihatmu di monitor. Suara di headphone-ku, aku kecilkan. Hanya logat kentalmu yang aku dengar. Aku sesekali tersenyum, saat kau tertawa. Entah apa yang kau bicarakan. Hatiku tak disini. Aku memutar lagi waktu. Puisi itu ternyata kau buat untuk dirimu sendiri. Puisi yang aku pikir kau buat untukku padanya.


*terinsiprasi dari obrolan pagi yang mengingatkan saya pada sebuah puisi tanggal 25 September 2009. 


Burning away
Far away into my memories
Like a candle melting in my mind
You slowly drift out of my sight

I can't remember your touch on my skin
Or the places we have been
Drifting away to these older days
Without you shining on my soul

A final tear drops from my face
When the last memory is fading away
When my mind is no longer sane
And my lifetime has been in vein

A stranger by my bed frightens me
I am scared
If only I could remember this loved ones face
If I wasn't just one more sad case

Burning away
Far away into my memories
Like a candle melting in my mind
You slowly drift out of my sight

A teddy bear sits alone on the chair
With no memory from where it came from
Its expression smiles back at me
I don't know if I'll remember that expression too

They take me outside to see the sky
It's the first time I see the sunlight
Like a new born child, it’s new to me
It's first time I can be a bit happy

I don't know who I am anymore
I don't know who I want to be
I don't know where I want to go
I don't remember my own soul

Burning away
Far away, into my memories
Like a candle melting in my mind
You slowly drift out of my sight

By: Luke Perry


Bandung, 8 Juli 2011       

Bintang Barat Daya-8

Pagi itu kita bicara. Mencoba membaca dengan cepat satu sama lain, meskipun aku tak mau kita terburu. Tak lagi mengeja. Kita tak lagi gagap. Kita bicara tentang keyakinan. Kita berbagi  tentang Tuhan. Kau kecewa. Aku lihat itu dari sorot matamu. Aku dengar lenguhan itu. Kau bingung meretas jawaban. Kau benci kelaparan dan kemiskinan. Kau berpikir keras dengan semua perbedaan di semesta.

Jangan paksa dirimu mengenal-Nya dalam satu hari saja, bintang barat dayaku. Jangan pula bermimpi bisa menyapa-Nya lewat aku. Seumur hidup atau bahkan seusia semesta yang renta ini, tak ada waktu yang cukup untuk menafsirkan cinta-Nya Yang Agung itu. Akal kita sama, namun hati kita berbeda. Terhampar luas jalan menuju-Nya. Tak perlu kau ganti namamu, seperti kau tanyakan dulu. Bahasa milik-Nya juga. Jangan kau pikir bahasa tertentu dapat mengakui paling dekat dengan-Nya. Bahasamu itu hasil cahaya-Nya. Namamu pun begitu.

Jangan kau harap bisa beriman hanya dari bersimpuh, bintang barat dayaku. Dekati Dia dengan akalmu. Gugat Dia! Tanyakan diri-Nya! Bergumullah dengan risalah yang menggunung itu. Setelah kau berhasil menembusnya, barulah kau berpuisi pada-Nya. Kau akan merasakan kehadiran-Nya yang rupawan.

Kita ikuti kelokannya. Kita masuk ke dalam pekat yang menjadi saksi atas masa lalu. Namun, kita mencoba merangkak menuju-Nya. Dia benci pendusta, bintang barat dayaku. Apalagi yang lebih rendah dari pura-pura beriman pada-Nya? Kita tak perlu ikuti cara mereka. Usah kau pelihara jenggotmu. Tak perlu pula kita ganti baju. Tak ada gurun disini! Kita belajar mencintai-Nya lewat cara kita sendiri.

Ini aku yang hanya membantumu menawarkan keindahan. Aku yang hanya mengajakmu menuju pintu tarikan nafas yang kau pun tahu suatu saat berakhir. Kakekku pernah berkata, tangisan itu bukan jawaban. Cinta kita pada-Nya terlalu dangkal, ketika kita terjemahkan dengan tangis. Dia tak butuh itu! Kita hanya perlu mencintai-Nya tanpa rasa takut. Kita hanya butuh belajar cara untuk tak ingin imbalan apa pun dari-Nya. Mencintai-Nya itu lebih dari cukup. Kita tak perlu lagi bicara tentang surga. Dengan keberadaan kita, Dia niscaya memberi cinta-Nya. Kita hanya butuh belajar mencintai-Nya. Itu saja. Tuhan kita sama, simpan baik-baik ucapku.

Kau tak perlu mengganti namamu, aku ulangi itu. Di namamu ada percik cinta-Nya yang tak kenal batas bahasa. Dia ulurkan tangan cinta-Nya lewat orang tuamu yang dengan cinta pula namamu tercipta. Salam cinta bagi semesta, Luke Dominic Perry!


*terinspirasi dari obrolan pagi tentang teologi dengannya diiringi sebuah lagu Jim Brickman featuring Martina McBride-The Gift.


Bandung, 5 Juli 2011

Bintang Barat Daya-7

Dia menghampiri beberapa malam lalu, bintang barat dayaku. Aku belum sampaikan padamu. Kau masih nikmati liburan di Prancis sana dan aku tak mau mengusiknya. Buatkan aku puisi saat kau temui menara Eiffel. Titip senandungku untuknya. Kau pasti tahu bahwa aku luruh menjawab syairmu. Aku biarkan laut menjamah tiap larik yang kita buat bersama. Menghembuskannya ke samudera dan mempertemukannya di biru paling gelap.

Dulu kau sempat berucap, ada sentuhan naif kala aku masih juga bicara tentangnya. Kau enggan mensejajarkan dirimu. Kau tuliskan masa lalumu tentang berbagi permen-permen, perpisahan, dan hal lain yang membuatmu bermimpi. Aku ingat kau ingin terlahir kembali dan melebihi orang yang menemukan mesin pencari maya, kemudian kaya raya, lalu membantu orang-orang miskin. Aku tertawa saat itu. Kau pun berkata seharusnya tak ada kelaparan lagi di dunia, jika orang senantiasa berbagi.

Kau lanjutkan lagi. Kita bukan kakek dan nenek yang biasa bertukar cerita, lalu tertidur. Namun, kita adalah sepasang manusia muda yang senang merangkai bunga sebelum tidur. Kemudian bangun, meminum secangkir teh hangat, dan merayakan tiap detik keajaiban semesta atas pertemuan bahagia dengan apa pun itu.

Aku larut pada masa itu untuk kesekian kali, bintang barat dayaku. Jika pun ada pengakuan, haruskah aku gamblang berkata padamu? Aku masuk lagi ke masa dimana kita baru pertama kali bertemu. Aku yang berkisah tentang ledakan rasa yang membuatku sulit terpejam. Aku yang hebat dan pecandu malam. Aku dengan ribuan karya dan menerbitkannya dari dasar hati. Gemulai tanganku mencipta puisi. Merekam tiap getar dan getir semesta. Menyusun balok-balok canda dan membangun istana kehidupan.

Aku senang menghisap sumsum dunia. Aku hidup dalam imaji yang tertuang dalam kertas-kertas waktu. Aku yang mencinta dengan sangat seorang pria. Pria yang mengajarkanku mendikte hati. Namun, hati tetaplah hati. Tetap suci dan paham makna dusta. Pria itu bertubuh sedang. Menghampiriku tiga tahun lalu. Tengah malam dan penuhi janji. Parasnya tampan dan tingkahnya rupawan. Hingga pada akhirnya semua lebur.

Kau mendengarkanku dengan seksama. Kau bercanda dan berkata, bagaimana jika aku yang akan menjadikanmu putri duniaku? Kala itu aku bahkan enggan menanggapimu, bintang barat dayaku. Tiap kali kau mencoba masuk dan mengetuk pintu, aku pun memalingkan wajah. Masih dia. Ya, dia yang aku gambarkan pada langit-langit hati. Jangan coba-coba masuk! Namun, kau tak berhenti. Pesan-pesan singkatmu yang tak pernah aku balas itu tak juga menggoyahkanmu.

Aku ulangi lagi. Aku masuk ke masa itu, bintang barat dayaku. Aku yang masih juga bicara tentangnya. Aku yang sedemikian hayati tiap tetes perih saat namanya terhenti di ubun-ubun. "Ah, tiap orang memiliki masa lalunya sendiri," itu katamu selalu, "tidakkah kau tahu bahwa kau begitu mempesona?" godamu. Barangkali ada masa dimana kau lelah, namun kau tak pernah beri tahu aku. Andai jarak ini mengenal kompromi, bintang barat dayaku. Mungkin tiap akhir pekan, aku bisa menunggumu di rumah dan tak perlu cemas saat kau belum pulang.

Irlandia. Kau sebut tempat itu. Kau sebutkan keindahannya. Tahukah kau bahwa aku dengan luar biasa enggan pergi ke pantai lagi karena dulu aku sempat menghabiskan waktu bersamanya di tempat itu? "Jika kita bisa mengunjunginya, mengapa tidak?" katamu menggoda lagi, "namun, jangan salahkan aku, jika kau tak boleh pulang karena aku tak mau jauh darimu lagi". Kau tak henti menggoda. Tahukah kau bahwa ini terasa lebih menyakitkan, kala aku berusaha tersenyum sambil menahan pedih di hati?

Tuhan kita sama. Itu yang selalu aku bisikan padamu. Tujuh. Sampailah coretanku pada angka ini juga. Angkaku. Untukmu di barat daya Inggris, ajari aku kesantunanmu. Untukmu, Luke Dominic Perry, kali ini aku sebut utuh. Untukmu, kelegaan ini tercipta.


*terinspirasi Leann Rimes-The Safest Place, it feels so real. You showed me. I can trust you with emotions I had locked away. It was your touch, your words. They heal the deepest part of me that only you can see.


Bandung, 1 Juli 2011

Bintang Barat Daya-6

There was a light out there. Then I walked and tried to find it out. It was a simple one. The kid was playing with it. He seemed so happy. He was alone and enjoyed it on his own. He couldn’t hear me. He laughed out loud over and over again. I saw his eyes. The sincerity was so real on them. The magical feeling came to me by looking at him.

Suddenly he took my hand. I was surprised. “Do you wanna play with me?” he said. I smiled, then he gave me the other light. “I feel lonely, don’t you know that? That was why I asked you to be with me,” he said again.

Oh, dear. But he seemed ok. How could I believe in him? “Do you feel what I feel?” he asked, “I looked at the other side ‘coz I felt the pain all of the sudden”.

“Well, I do sometimes. As human being we’re not only need God, but also someone to share for convincing us that we’re not alone. I wonder why you can be happy like this and laughed out loud, but the other side you feel lonely,” I said.

“I’m not happy. I just tried to laugh. Then, when I did it, you were coming. So, I felt better. 

"What’s in your mind? Don’t you feel good?”

“I don’t know. Though I know that the rainbow will come after it was raining like cat and dog, but it was not easy for me to hear the thunder. I felt cold and so scared”.

“Don’t you have a special one?”

“I do. But he’s so far away. I wonder when I can hug him, while the tears hard to be replaced by the laughter. Sometimes I really wanna get the smell of his skin. I miss him everyday. But I don’t know what to do”.

“Look, I have a coin. Which one do you wanna chose? The queen or three lions?”

“What for?”

“Just tell me”.

“The queen”. Then he played with it.

“If you got the queen, then your dreams will come true. If you got the lions, just go. Here it is!” He opened his hand. “See? The queen! You don’t have to worry. Your special one will come to you. He knows what you feel. You don’t have to feel lonely ‘coz he always in your heart, though he’s so far away”.

We got a dead air for minutes. “Hopefully,” I said.

“It’s time for me to go. Anyway, I know it from my grandma. She did it to me when I felt the whole world is gone. It was a couple years ago when my dad died. Bye”. He went and just giving me a smile. I didn’t even know his name. We never knew each other. Maybe he’s 13 years old. But he was giving me the amazing night, though it was just in 30 minutes. I saw the pain when he told me about his dad, but he tried to cheer me up by all of the silly things that he has done. Oh, I forgot something. The light. It’s his! This light helps me to get the night. The hardest time that makes me thinking bout you. You know that I really do miss you.


*especially for my lovely one, Luke Perry. It’s inspired by Evan and Jaron-The Distance.


Bandung, 22 Juni 2011   

Bintang Barat Daya-5

Perlahan asap mengepul. Dingin di luar. Berbatang-batang sudah rokok itu terbuang. Asbak mulai penuh. Ada yang lebih dari membuatku marah. Barangkali jika ada yang lebih buruk dari kata kecewa, itulah yang aku genggam kini. Ah, secangkir teh hangat ini akan sedikit menghibur jika kau ikut serta, bintang barat dayaku. Bisa jadi aku tertidur lelap barang sejenak.

Ini aku yang dengan gagap membawa luka atas ucap seorang kawan malam tadi. Ini aku yang dengan segala kebisuan merangkum seluruh pedih dalam masa kebersamaan kami. Ini aku yang bahkan masih sanggup menyampingkan lelah saat dia bertutur. Ini aku yang hanya mampu melihatnya datang ke kotaku, menyimpan tawa, lalu pergi lagi. Ini aku yang tak tahu alasan mengapa surga kecilnya harus disembunyikan dariku. Ini aku yang ada saat dua sayapnya patah dan tak bisa menyatu kembali. Ini aku yang ucapkan selamat tinggal sebelum dia melangkah melanjutkan hidup. Ini aku yang bukan untuk berbagi tawa. Ini aku yang dengan terburu menuju upacara jubah suci tanpa dia undang, lalu dia pergi begitu saja.

Ajari aku kesantunanmu, bintang barat dayaku. Aku yang sedang berhadapan dengan pekat atas ucap. Aku yang ingin mengadu padamu. Meminjam bahumu dan menitipkan tangis. Lalu tertidur dalam usapan tanganmu yang lembut. Jangan bangunkan aku. Secangkir teh hangat itu aku siapkan esok pagi.


*terinspirasi dari perbincangan yang menyakitkan malam tadi dan sebuah pesan singkat yang menghibur pagi ini

People can be mean sometimes without meaning it - Luke Perry



Bandung, 29 Mei 2011

Bintang Barat Daya-4

Memanggilmu. Menciptakan kejernihan pikir dan menuangkannya dalam buku kecil di tengah keluguan rasa. Mencari-cari apa yang bisa menyembuhkan gelisah. Paling tidak, membubuhkan guratan sederhana yang bersenyawa dalam raut wajahmu. Kota kecil di hati ikut gaduh seketika. Bagaimana memaknai tiap sepi yang menghimpun gemuruh dalam lelah? Aku pikir, kita sama-sama tahu ada cahaya kecil yang berpijar di tiap harap. Titik kecil itu melayangkan rindu. Menyampaikan salam pada malaikat untuk mengumpulkan sedikit keberanian. Bumi Eropa. Kau hirup udara disana.

Dering. Itu yang aku cipta dalam imaji. Tertulis namamu disana. "Aku bekerja hingga larut malam ini. Aku harap kita bisa bicara esok pagi".

Aku tergopoh menyembunyikan denting pianomu saat getar yang tercipta lewat alunan Sting-Shape of My Heart, kau mainkan pukul enam pagi. Kala itu sudah lewat siang disini. Kau berceloteh, "dulu ibuku sering memainkan piano dan aku nyanyikan lagu ini. Kau tahu? Ibuku terbangun kini. Masih terlalu pagi, katanya. Aku tak peduli. Barangkali dia akan lebih mengerti jika kau berada disini lengkap dengan baju tidurmu dan membuatkanku secangkir teh hangat. Jangan lupa kau tambahkan madu". Aku tersenyum. "Namun, akan lebih indah jika kita bertemu cukup di akhir pekan dengannya," tambahmu.

Kau berkata lagi, "semesta memiliki selera humor yang tinggi karena membiarkan kita begitu jauh". Aku terus mendengarkanmu bicara. "Kau terlalu dewasa untuk memiliki boneka-boneka itu. Bagaimana jika suatu saat kau tak perlu lagi memeluknya karena aku yang akan menggantikan mereka?" godamu. "Oh, aku lupa. Aku memiliki buku dongeng yang begitu banyak. Kau bisa pilihkan mana yang bisa mengantarkan dia pergi tidur".

"Lalu apa yang kau akan lakukan saat aku membacakan dongeng? Bernyanyi untuknya?"

"Tidak. Aku hanya akan menatapmu. Menatapnya. Mengagumimu dan berharap aku bisa kembali ke masa dimana aku akan menangis saat susu di botolku habis"

"Apa sebenarnya yang kau bicarakan sekarang?"

"Menggoda dan bermanja denganmu"

Tersimpan di lemari hati. Semua cerita dan ucapanmu dengan logat kental Wales. Jangan terburu. Namaku masih Raksaprawira.


*terinspirasi dari puisi dan obrolan pagi

When it all poured into my heart
I can't breathe when we're apart
The strength and will to carry on
To get you back where you belong
You entered my soul and imprisoned me there
With no one else love I'll share
You're the only one to sooth my soul
The only one to fill my hole

By Luke Perry


Bandung, 29 Mei 2011

Bintang Barat Daya-3

Baru saja tersiram kesegaran malam hari. Aroma hutan tropis tercium dari balik pintu. Teringat janji dengan seorang kawan saat menyiapkan makan malam. Entah apa yang disisipkannya dalam sebuah pesan singkat. Namun, itu justru mengantarkanku pada tarian kecil dan lagu-lagu manis.

Sekedar ingin menghibur jarak yang memang tak kenal kompromi. Aku dengan eksotisme khatulistiwa dan dia yang ada di pekarangan empat musim. Nun jauh disana. Biru matanya mengingatkanku pada luasnya hamparan samudera. Putih badannya membuatku begitu tertarik bermain bola salju. Tegap tubuhnya memaksaku memutar rasa untuk ingin berada dalam dekapnya, kala gigilan realitas membentur tiap sudut hati.

Masih tentangnya. Dia yang merelakan waktu tidur malamnya tersita hingga pagi untuk menjemput salam pada bidadari yang katanya rupawan. Aku barangkali tak semewah putri yang ada di surga sana. Aku yang hanya menggenggam rasa dan mengantarkannya pada gerbang pagimu. Aku yang selalu sibuk untuk menafsirkan tiap ucap dan sentuhan. Aku yang bahkan masih harus meminjam pena pada semesta untuk sekedar menuliskanmu. Aku yang berharap bahwa jarak kita bisa lebih sederhana dari jentikan jari. Aku yang menginginkan kemegahan rasa dari tiap ketulusan senyumnya. Aku yang duduk di balik waktu dan mencoba mengartikan makna sabar.

Kau tak mengenalnya, kawan. Namun, aku ingat sebuah catatan rapi yang dialamatkan padaku oleh seorang kawan beberapa waktu yang lalu. Dalam pikirannya, manusia hidup sendiri. Tak ada yang mengenali hingga ke dasar hati. Tak ada yang sedekat ilusi yang dibuatnya sendiri. Bukankah kita datang dan pergi menuju Keabadian pun sendiri? Sang Ketegaran Abadilah yang pada akhirnya menjadi bahu untuk bersandar.

Aku ingat dia pernah berkata, "suatu saat jiwa lelah dan meninggalkan raga. Namun, aku akan memastikan bahwa kau baik-baik saja. Keindahan gemerlap pesona semesta bersamamu. Apa yang harus ditakutkan ketika bahkan hidup pun hanya permainan menghitung mundur menuju keniscayaan?" Kala itu aku terdiam. Kau benar. Aku hanya enggan memasukan itu ke dalam ingatan. Ada kesementaraan yang berilusi. Jarak ini lebih dari memabukan, bintang barat dayaku. Aku lebih dari terhuyung ketika ada pekat yang membiaskan arah. Aku tahu bahwa langkah tak mungkin berhenti. Namun, kadang aku butuh terduduk sejenak untuk menarik nafas, bukan? Ada sepenggal kata yang aku bawa ketika aku berpuisi. Adakah kau tahu bahwa kau adalah bagian dari bait suci dalam sunyi ketika aku mengadu pada langit?

Bahasa ibuku rumit, bintang barat dayaku. Namun, tak serumit mengartikanku. Suatu hari ketika kau berkata, selamat malam, cinta, aku pun bertepuk tangan. Barangkali nenek moyang kita sempat bertemu sekejap. Aku lebih banyak bicara dengan bahasamu. Kau berkata, ajari aku lima kata tiap hari agar aku bisa menyapamu dengan sentuhan ibu pertiwi. Aku pun tersenyum. Bagaimana jika kita saling menukar? Aku mengajarimu lima kata itu dan kau ajari aku cara untuk membacamu. Itu saja

Masih sore disana. Siapkan makan malammu. Aku sudah menghabiskannya beberapa jam lalu. Suatu saat kita akan menikmati makan malam bersama. Entah di cinta khatulistiwa atau di kasih empat musim. Barangkali setelah itu, kita akan berbincang menantang malam ditemani pisang goreng dan secangkir teh hangat. Di depan tungku. Duduk di sampingmu dan kita berbagi selimut. Bahkan mungkin hingga aku tertidur di pelukmu. Jangan bangunkan aku. Kursi itu akan bersumpah demi malam agung.

Bagaimana dengan kini? Ini aku yang mengantar pesan dan melayangkan rindu. Aku yang mencinta bau tanah sehabis hujan dengan senyum manis dan senandungmu. Aku yang membuka lagi helai demi helai puisi darimu. Suatu saat kita akan bersyair bersama dengan keintiman tertinggi menuju dini hari.


*terinspirasi dari puisi pagi.

Maybe you can handle all my selfish ways
Maybe I will be a better man someday
Only time will tell where life will take me
In this life what it will make me

Someday I hope to get my rhythm right
To life I hope to improve my sight
So I don't sink further and further down
But win without even a fight

If you're there to guide me
Or just always beside me
I think I can battle on for now
I think I can win somehow

There will be no struggle without you
I can do the things I want to
Life will have a better view
With you with you with you

By Luke Perry

Sixpence None The Richer menggoda dengan tembang Kiss Me dan membantu berimaji. Ada yang mengetuk pintu, memainkan gitar, dan menyanyikannya. Kiss me beneath the milky twilight. Lead me out on the moonlit floor. Lift your open hand. Strike up the band and make the fireflies dance. Silver moon's sparkling. So kiss me.. ;p


Bandung, 29 Mei 2011

Bintang Barat Daya-2

Seorang teman berkata dalam perbincangan malam hari, "semesta itu senang berkonspirasi. Ada album mimpi yang terwujud setelah belasan tahun aku simpan". Ya, ini hanya sekelumit rasa yang aku coret dalam catatan kecil kemana pun aku pergi. Tinta alakadarnya menjadi bagian dari hidup yang bersaksi atas keindahan setiap langkah bijak-Nya.

Beberapa waktu lalu, tawa yang terukir berjam-jam sempat membuatku cukup tenggelam ke dalam serbuan rasa. Ada yang membuatnya menjadi sedemikian utuh. Barangkali ini hanya bagian kecil yang menjadi suci ketika senyuman tulus itu hadir tiap seminggu tiga kali. Rutinitas pagi yang jauh lebih hangat dari sinar mentari dan secangkir kopi.

Dia membawa cermin dan mengajari cara menatap diri. Kesantunan yang memiliki sentuhan eleganitas tinggi yang justru diberi pada tiap kokok ayam jantan yang kadang kurang ajar membangunkan waktu, ketika aku butuh berbaring dengan lugu. Seringkali ada puisi yang tiba-tiba terucap kala semua orang hanyut dalam selimutnya untuk menghindari dingin dan terlelap. Suatu saat, ketika aku terbangun, ada dia yang menatapku teduh. Ada rasa yang sebegitu mendorong untuk tumpah. Jika pun iya, jangan biarkan tumpahannya membangunkan dia yang tidur di sampingmu. Itu pesanku padamu, kawan.

Apa yang membuatmu santun, duhai bintang barat dayaku? Tahukah kau, aku di timur menggenggam sedikit harap dan memintamu untuk sejenak saja mengantarkan aku pada kesantunan yang kau dapatkan disana. Kota kecil Britania Raya. Tempat orang beradu lelah dan memasang simpul-simpul asa kala berlibur. "Aku berikan bantalku, namun aku tak akan mengizinkanmu bermain hingga larut bersama Rocky," celotehmu. Aku pun tertawa. Rocky seekor anjing springer spaniel kesayangannya yang seringkali mengganggu obrolan kami.

Aku siapkan secarik kertas karena aku bahkan tak sanggup menatapmu. Keindahan-Nya terpancar dari kesantunan yang tidak aku dapatkan disini. Suatu saat nanti, aku berpuisi, "saat mereka berlari kecil dan saling mengejek, kita duduk manis sambil meminum teh hangat di sore hari. Kau bertanya, mengapa mereka begitu lugu? Aku menjawab, barangkali ada yang kau sisipkan pada dongeng malamnya. Giliranmu malam ini, sahutmu"


*terinspirasi dari sebuah puisi di pagi hari saat Valentine.

When I look out to the night sky
Will I see it before daylight?
Your soul reflecting back to me
Through my eyes connecting me
I wonder what life could be without the world around me
With the only sound I could hear
Being my own heart beat
That would be the day you're here
That would be the day you're near
If the would be so kind to be my valentine

By Luke Perry

Meretas selaksa haluan pada masing-masing jalannya. Mari sejenak lumpuhkan kepulan dan kita minum teh di halaman belakang sembari menghirup aromanya. Tuhan kita sama. Kita ada dalam kerajaan-Nya, duhai bintang barat daya.


Bandung, 29 Mei 2011

Bintang Barat Daya

Hangat dengan sesuatu yang secara material tak terjangkau. Tapi tak disini. Di hati. Pelan-pelan mencuri waktu. Mengendap-endap mencari senyum. Barangkali itu yang ada dalam pikirannya. Lima musim berganti. Tingkahnya masih sama. Rasa yang berlebihkah? Entah. Sama-sama tak ingin tergesa menarik ucap.

Kini dia berkacamata. Katanya, pandangan mulai buram. Badannya tegap. Kulitnya putih. Pria berdarah asing nun jauh disana. Senang berpuisi dan bernyanyi. Berselera humor tinggi. Ada kalanya dia tenang seperti air. Keteduhan bola matanya yang biru serupa samudera itu mengisyaratkan badai tertahan. Tertunda. Seringkali sepi. Tak tersentuh.

Ajari aku bertutur, boneka saljuku. Kenalkan aku pada dinginnya udaramu disana. Setelah itu aku tunjukan keramahan khatulistiwaku.

Kau punya altar, sedangkan aku memiliki kain putih. Kita hidup di alam simbol. Semua ilusi. Bukankah realitas sesungguhnya ada setelah kematian? Tuhan kita tetap sama, bukan?

Mensemesta itu bukan perkara mudah, boneka saljuku. Ketika terucap olehmu bahwa pelukan menjelang tidur adalah pengantar luluhnya keangkuhan dan munculnya kekuatan agung yang baru, aku hanya terdiam. Aku pernah rasakan itu! Kau pun tahu. Aku menjadi putri di purinya, sedangkan kau bersembunyi di balik semak. Sesekali antarkan bunga kala aku duduk di taman hati yang mulai penuh ilalang. Kau tebas dan dengan manisnya menebar benih-benih bunga baru. Kini kita pun bersama mencium aroma bunga dan tanah basah tiap habis hujan.

Aku terhuyung karena kapalku terhadang dan kau antarkan aku menuju dermaga. Duhai bintang barat daya, apa yang ada dalam benakmu kala aku menangis karenanya dan kau tawarkan bahu? Tidakkah kau lunglai mengajakku berkeliling hutan dan bermain di danau? Kau menjawab lugas, “tidak. Memberi dan membuatmu tersenyum membuatku bisa tidur malam ini”.

Lalu, kau bangunkan aku dengan sentuhan itu. Seringkali kau mengaku tak tidur. Apakah kau tahu kehadiranmu lebih hangat dari secangkir kopi dan mentari pagi? Tak usah menunggu dentang karena kita yang bunyikan lonceng. Jangan terlambat, namun kita pun tak perlu terburu. Aku menunggu musim panasmu. Kita berenang ke utara. Barangkali juga kita bisa bercinta dalam megahnya pesiar menjemput lautmu.


Bandung, 27 Januari 2011