Tampilkan postingan dengan label sepenggal bias. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sepenggal bias. Tampilkan semua postingan

Rabu, 14 Agustus 2013

Sepenggal Bias-30

Papua punya cerita. Di dalamnya ada kita. Menghisap pelan perdu dan menyulapnya menjadi rindu. Tepat saat kita sama-sama memangku peluh yang mengeluh jauh. Aku ingin kau sekejap saja tahu bahwa rasa menggumpal menjadi senyawa dan menisbahkan cinta pada luka yang sempat terbiarkan.
 
Aku ingin menjilid asa dan mengumpulkannya di kertas-kertas malam, lalu menyodorkannya kepadamu. Suatu saat kau tersenyum sembari menahan sesak dan membuat ringkasan cerita yang sempat kita lagukan.
 
Aku tak henti menulis bait demi bait yang masih untukmu dan berontak pada hasrat untuk selalu ingin memiliki. Kau barangkali juga tak pernah tahu persembahan agung yang dulu aku harap ada perjamuan kudus setelahnya, memahat selaksa patung puisi yang tak terhenti.
 
Aku tahu kau terjatuh kini, lelakiku. Aku terlebih dahulu dan menghirup pedihnya hingga hilang kendali. Kita sama-sama paham makna mengelabui perih, bukan? Namun, kita lupa dusta diri tak terperi.
 
Jangan terburu untuk tidur, lelakiku. Saat kau terbangun, aku ingatkan ada dia yang tertatih berjalan dengan tawa riang walaupun popoknya basah. Aku kehabisan kata. Aku terlampau menohok. Aku lebih dari sekedar menunggu. Semoga tak bertemu windu.

 
Bandung, 10 Juli 2013

Selasa, 13 Agustus 2013

Sepenggal Bias-29

Barangkali begitu, lelakiku. Saat mereka menepuk nyamuk, tidur berselimut sarung compang camping, dan sesak karena asap knalpot-knalpot pengunjung malam. Sama-sama kita mengutuk negara yang mencekoki takdir. Walaupun kita tak beramah tamah dengan nyamuk dan bisa membeli kenyaman dengan selimut hangat tanpa harus sesak dengan asap knalpot.
 
Sebagian dari mereka pulang terhuyung atas gemerlap ibu kota. Muntah dekat orang-orang yang menyapu jalan di pagi buta. Selamat tidur, kekasih. Mungkin esok kita berbagi caci di bantal yang sama. Masih tentang negara yang senang bercanda tentang darah.

 
Bandung, 26 Mei 2013

Senin, 12 Agustus 2013

Sepenggal Bias-28

Apa itu di balik gusarmu waktu lalu? Aku ingin pulang menuju tempat yang kau sebut dengan surga, lelakiku. Mengasuh sejumlah harap yang sempat membatu. Di sana kita mengundang rasa dan tak perlu lagi saling mengajari tentang bahagia. Dalam namamu, aku tersipu malu meredam tawa.
 
Lalu kita membisu atas diri yang lupa pada secarik persembahan hati yang luput dari cemooh masa. Aku hanya ingin kau mengerti bahwa cinta enggan menunggu dan rindu itu penuh angkuh.
 
Mari kita bicara dengan nada yang mencantik tanpa harus ada luka yang memaksa ikut serta, lelakiku. Kau dengan baju hangatmu dan aku dengan jaketku. Bisa saja ada dingin yang meradang kala tatap bertemu tatap. Bisakah kau lepaskan keraguan yang selama ini memasung ikrar di syair kita yang menjadi prasasti di langit kamarmu? Ini lagu yang sama-sama kita tunggu.
 
Puisi itu mengalun dalam riuh serangga malam yang menunggu pagi. Kau baru saja tersadar bahwa hujan menimbun rasa yang entah menyulut apa. Lalu, bisakah kita memudar dalam jeram yang tak pernah dinamai sejenis luapan apa pun? Aku ingin kau pelan-pelan mencintai kemilau jubah agung dan topi suci yang sebentar lagi aku pakai untukmu agar usai seluruh pinta.

 
Bandung, 20 Maret 2013

Minggu, 11 Agustus 2013

Sepenggal Bias-27

Lantas aku ingin berpikir sembari duduk di pinggir jalan dengan bau knalpot. Tentang kamu. Tentang marahnya kita pada ribuan semangat yang jumawa berdiri antara resah atas nama adat yang salah kaprah.

Lalu aku kembali. Menyusur trotoar masih juga dengan bau kendaraan yang membuat sesak. Tak hanya tentang kota, tapi juga kamu. Di kota ini kita melucuti satu per satu khayalan tentang bau amis dosa.

Oh, ya, dosa. Sehina itu barangkali gambaran rasa yang melempar sepi tepat ke dada. Bolehkah sedikit saja aku membela diri dan mengatakan bahwa aku tak peduli pada kecaman mereka, lelakiku?

Kita tahu bahwa sejauh sunyi yang mengabdi pada ilalang, aku selalu jatuh cinta pada seluruh getar dalam nadimu. Aku tak kehilangan cipta untuk terus menuliskanmu pada serat kayu yang menua. Merindu. Bahkan selalu gusar dalam riuh gemuruh mengingatmu. Jikapun mungkin, boleh meregangkan perih sebentar saja. Sesama rasa yang tahu jerit, aku ingin pulang menuju dekapmu yang agung.


Bandung, 25 Februari 2013

Sabtu, 10 Agustus 2013

Sepenggal Bias-26

Fatwaku tentang rindu. Menggali tanah mimpi yang sempat mengubur secawan cerita. Milikmu, keabadian, aku pulang.
 
Ingin mengusik cara kita bercinta. Aku ingin lagi. Kau tak usah pergi.
 
Dalam dekap
Dalam nadir
Dalam malam
Dalam serunai
Dalam gita
Dalam nada
Dalam gempita
Dalam bingkai
Dalam pesona
Dalam perih
Dalam makna
Dalam hujan
Dalam dahaga
Dalam jiwa
Dalam kamu
 
Merindu itu seperti terik. Mengeringkan dedaunan yang mendedah tanya. Seperti dingin. Membekukan ranting yang menyusuri nadi. Aku ingin kamu.
 
Jika memang peron bergeliat di ujung gelap, pelan-pelan saja kau dekati aku. Berharap tak pernah ada yang tahu. Kita tak boleh tergelak. Kita hanya harus pura-pura bodoh. Ah, nampaknya ketololan melekat pada cercaan mereka, lelakiku. Kita harus berlari dan sembunyi tanpa lupa mengendap-endap. Kita harus rela melepaskan jubah-jubah asa yang disemai bersama.
 
Baiklah, inikah yang mereka sebut kekalahan di akhir? Aku ingat juga kita pernah jatuh dan berlutut. Tertimpa semak belukar yang menggunung dan tumpukan ilalang. Aku ingin kamu.

 
Bandung, 13 Februari 2013

Senin, 11 Februari 2013

Sepenggal Bias-25

Hampir lima tahun pertemuan itu. Menyisir seluruh angkuh yang linglung. Gugup. Ingin mencium wangimu yang samar kala aku baru bangun dari mimpi penuh gigil. Di sampingmu mengeja hari.

Barangkali lelahmu berujung menyapih rindu. Mengungkap pilu di Sabtu biru. Akui saja kita sempat menjadi pecundang waktu. Untuk kesekian kalinya aku harus memburu. Enggan seberangi samudera.

Bagaimana jika kelak kita bertemu lagi di saat banyak hal mengumpat pedih, lelakiku? Apakah giliran kita mempecundangi masa dengan bercinta tanpa harus merasa kalah sambil liar melempar baju ke lantai?

Ingin bercinta denganmu lagi dan tidur lelap setelahnya. Menyiasati malam yang jalang. Mendengar hela nafas yang lembut. Melatih diri menjadi dewasa dengan santun puisi-puisi pagimu. Tak perlu usai.

Bahkan tidak untuk kali ini. Mencaci rindu. Menguburnya dalam-dalam. Mengikuti langkahnya. Merindu itu seperti kamu. Datang dan pergi. Membawa kejutan. Menyumpahi kesendirian yang khidmat.


Bandung, 8 Februari 2013

Kamis, 15 November 2012

Sepenggal Bias-24

Kali ini aku menyerah. Kau boleh menarik nafas lega.

Lama sekali aku ingin menulis cerita tentang selaksa asa di cawan mimpi yang sanggup diterjemahkan surau tiap kali aku mengingatmu. Aku hanya ingin kau mengangguk dan tak perlu bicara. Aku ingin merasukimu dengan secangkir luka sisa malam itu. Kita terburu menyelesaikan bait kidung yang terlampau agung menyelinap di tengah ruangan. Kita enggan memerdekakan rindu, lelakiku. Kita asyik saling menukar duga. Berharap akan ada mereka yang memberi takaran-takaran omong kosong tentang keterlambatan kita. Aku ingin kita berlabuh setelah menggauli gelombang tiap samudera. Akan ada kau dan aku saja. Barangkali kita lupa akan batas waktu.

Jika kita luapkan jalur-jalur nahkoda, barangkali lain cerita. Kita tak tahu arti kata jengah yang dilempar ke muka, saat empat tahun lewat tak terkira binal. Aku ingin menggabungkan wangi dupa beserta rupa yang kau simpan di sudut paling ujung. Tepat dekat puntung rokok yang ikut setiba kilau yang kau cipta akhir tahun itu. Aku ingin kamu.

Aku bisa saja menemukanmu lagi dengan seonggok kerentaan di kereta atau di taman dengan sebatang tongkat. Kau akan mendapati bahasa yang hilang, saat aku tak berhenti berpuisi tentang rindu yang masih untukmu. Satu hal yang kau akan mengerti, rasa ini tak bertempat. Kau tak pernah kehilanganku karena tak sekejap pun aku beranjak dari kursi rodaku. Untukmu, lelakiku, aku enggan pergi.

Aku tahu cara menghentikan degupku sendiri, namun kau butuh mengajariku mengayun musim untuk melambaikan tangan padamu. Aku mungkin tertipu hujan. Ah, kita mencermati rintik dengan hela nafas yang malu mengakui jerit, bukan? Aku ragu ini hasrat yang aku pilih sendiri.

Kali ini aku menyerah. Kau boleh menarik nafas lega.


Bandung, 2 Oktober 2012

Senin, 01 Oktober 2012

Sepenggal Bias-23

Aku pernah bicara tentangnya yang tak 'kan pernah terdera. Selalu bagian dari derai.
 
Ah, ya, dia yang selalu mengawali prosa yang serba manis itu aku kira.
 
Sebagian darinya aku simpan dekat pintu agar selalu temani sebelum aku berangkat membuka helai-helai keajaiban baru.
 
Tentunya tempat yang paling bagus yang kamu punya selain di serambi hati, barangkali?
 
Sebagian lagi aku simpan di atas bantal agar aku tak pernah mencumbu sepi sebelum tidur.
 
Aku ingin punya banyak kantung. Yang besar. Super besar. Yang bisa menampung semua tentang dia, kapan pun aku mau.
 
Sebagian kecil aku dudukkan dekat jendela. Sebagian yang lain aku tidurkan di samping boneka kecilku.
 
Dia akan selalu aku taruh ke segala penjuru tempat. Agar kananku, dia. Kiriku, dia. Depanku, dia. Belakangku, juga dia.
 
Suatu saat kau tahu sebagian-sebagian itu terangkai dalam cerita manis yang nanti aku ceritakan pada bintang paling terang yang kita sempat namai bersama, juga pada ledakan bintang yang kelak membuatku sejajar denganmu.
 
Asalkan tentang dia, apapun yang sebagian-sebagian itu jadinya memang cuma satu. Manis.
 
Kau pernah ada. Ya, aku katakan itu mantap. Aku mencintaimu semudah ini.
 
Dia memang paling ajaib. Datangnya seperti penyusup yang paling pandai sejagat raya. Diterobosnya serambi hati yang tadi.
 
Aku mencintaimu dengan segala aksara yang terhampar. Aku mencintaimu dengan seluruh kata yang berderet acak. Aku mencintaimu seperti mereka yang tahu wangi bunga-bunga mekar.
 
Mencintai dia bisa dengan cara apapun. Bahkan dengan cara yang paling sederhana. Sekerling mata, itu cinta.
 
Aku tahu. Jika ini tentang arah yang lupa jalan pulang, aku masih enggan menepi. Bukan karena kecewa. Bukan karena perih. Namun, karena aku tak mengerti tentang batas yang linglung aku sampaikan pada laut. Dekat samudera itu kami berpuisi tentang bidadari dan gradasi warna langit. Kau pasti tahu Sentani.
 
Aku menggumam tentang citraku sendiri. Dalam malam yang mengingatkanku pada aroma tubuhnya yang dulu aku semprotkan sedikit parfum, aku terduduk rapuh. Ini bukan tentang batas. Ini tentang aku yang selalu tahu caranya menyampaikan rindu. Kini aku merindunya sepedih rotan yang dulu kami sambungkan dari Bandung menuju Jayapura.
 
 
 
*terima kasih tak terkira untuk Lestyana Purwanda untuk kesediaannya berprosa malam ini. Catatan kecil sederhana untuk ulang tahun yang tertunda. Selamat ulang tahun, kawan! Semoga terus menyempurna menuju cahaya cinta-Nya Yang Agung! Tuhan memberkati!
 
Bandung, 2 Oktober 2012

Rabu, 29 Agustus 2012

Sepenggal Bias-22

Aku duduk di sini. Memangkas ilalang kecil-kecil. Mengitari naluriku sendiri. Lalu, menyusun sebagian remah hati yang tercecer sejak ada dia dalam rahimnya. Ada hasil nafasmu yang tersenggal, peluhmu yang deras, dan erangannya yang liar. Ada desahannya yang tersimpan rapi di bantal itu. Ah, bantal. Kita sering menghabiskan waktu di bantal yang sama, bukan? Bantal yang sempat kau beri nama dengan dungu itu.

Aku menggambarkan seluruh cerita jalang itu. Kisah yang kau tawarkan padaku untuk aku ludahi! Jika malam pun menjadi bungkam atas segala tanda kecil lelah manusia usai bercinta, aku robek seluruh bingkainya dan melemparnya ke sudut pintu! Menyakitimu, aku tak kuasa. Demi malammu yang penuh dengan degup cepat. Untuk tiap detik persenggamaan manusia yang lupa semesta. Demi seluruh bongkahan yang dulu pernah ada. Ingin menunjuk mukamu dan meletakan seluruh asa yang utuh lalu jatuh di sebuah panggilan ayah!

Permisi, adakah cinta di sana? Adakah rasa di sanubari saat perlahan kau menenggelamkan kepalamu di sela nafasnya yang memburu? Adakah aku yang malah tercermin di wajahnya itu? Saat dorongan tubuhmu semakin cepat dan keringat yang membaur, tak sekejap pun aku sudi mengakuinya. Bukan aku yang berbaring lunglai saat kau menghembuskan nafas panjang sebagai tanda kebinalan itu usai. Ya, binal! Aku ucap binal karena ada dua hati yang terduduk tolol di tepi tempat tidur. Sakit, lelakiku. Tahukah kau arti kata itu?

Sebentar lagi dia lahir ke bumi, bukan? Jangan pernah bacakan puisiku padanya, ingat itu. 


Bandung, 30 Agustus 2012 

Sepenggal Bias-21

Aku ingin menanggalkan biru dalam hempasan dekap yang terbaring di sepinya langitmu. Menjawab seluruh kicauan yang selama ini bicara tentang kita. Meninggalkan tema-tema usang yang melapuk di kaki sungai. Aku ingin mengalungkan seluruh emosi padamu, lelakiku.

Kita seringkali lelah memuja mimpi-mimpi kecil yang ternyata berakhir dengan sebuah pelukan. Di sini berhenti menyiram bunga-bunga asa yang letih menggauli tiap hentakan waktu. Aku ingin kamu, sahut seorang gadis di cermin dengan suara sayup. Ah, permainan dadu hanya sementara. Aku kalah.

Simpan saja cinta pada desahan ranting yang menyambutmu minggu lalu di utara. Andai saja aku benar-benar peduli, barangkali kita tak akan pernah berpikir untuk mengurai jerit. Pelan-pelan kita masuk ke dalam celotehan konyol itu. Menyakitkan saat ada dia di sampingmu untuk sekadar berkata selamat pagi. Kita terengah terhalang waktu.

Aku membaca garis-garis imajinasimu yang tergambar jalang saat kau berpeluh di sampingnya. Bah! Jangan sampai aku meneruskan cuplikan itu, lalu mengutukmu tak henti! Aku tahu bahwa aku kalah.

Kau tahu rasa ini menjagamu dari geliat perih yang biasa kita lewati bersama. Ya, aku berjalan sendiri kala itu, sedangkan kau melangkah pergi.

Dimana hati saat kau bahkan tak mengunjungi deretan sesak yang aku simpan tak beraturan di langit-langit? Aku melukis rindu sendiri di sela rintih. Siapa yang membuatmu paham arti sebuah penantian? Dia atau mereka yang hanya ingin tahu dan tak pernah peduli? Aku tak ingin menggali ciuman yang berhenti karena usai ikut duduk di sela-sela kita.

Seharum ingatan, kau tahu apa itu mencinta. Kita sempat bersama beberapa waktu. Tubuh indah yang tercerap mata sesekali mengaku ingin pulang. Kau tak di sana.

Keajaiban termanis berhenti di ujung pintu. Kau tahu apa itu merindu? Mengucapkan namamu di sedetik menuju tidur. Melafalkannya pada pesan singkat untuk kawanku. Mencuri wangimu yang diam di meja tempatku berpuisi. Sampaikan padanya yang sebentar lagi menjadi ibu, aku tak ikut serta kali ini. Habis cerita.


Bandung, 24 Agustus 2012

Sepenggal Bias-20

Kau sedikit terlambat, sesalku. Aku sangat terlambat. Kita memang terlambat mengumpulkan lagu rindu yang menumpuk di ujung pintu. Mempersembahkan seonggok jerami kering untuk sekadar menambatkan mimpi pada sisa-sisa angin. Kita enggan memalingkan wajah pada neraca gundah yang menyentuh sekujur tubuh.

Kita terlambat menuai janji lalu. Ah, kita sibuk menerka. Mereka-reka. Membaca garis-garis takdir. Seolah dungu menemukan titik akhir, kita hanya bermain dengan hujan. Kita gagap menghitung keniscayaan yang penuh ilusi tanpa kisi-kisi. Kita hanya mampu marah tanpa meledakannya pada sumbu di sudut sana, lelakiku.

Dari kejauhan menggoda-goda, berceloteh manis. Siapakah pemilik senyum itu?


Bandung, 22 Agustus 2012

Jumat, 17 Agustus 2012

Sepenggal Bias-19

Ada pesan singkat yang masuk saat aku tidur. Semalam tak tidur memang melelahkan. Tadi pagi aku habiskan untuk membaca tulisan beberapa orang teman. Aku bahkan tak sadar bahwa hari telah gelap. Terbangun pun karena gaduh penghuni lantai atas dengan nyayiannya. Aku membuka ponsel. “Is there still a lot of birds outside? Mother Theresa said, life’s like a song, just sing it. Si mie mie dor de tine”, begitu isinya. Masih kau. Perkataan Bunda Theresa itu sempat aku kirimkan pagi, sebelum kau berangkat kerja dulu. Burung-burung pun masih senantiasa gaduh dekat jendela, lelakiku. Tiap pagi dan sore mengisi ruang setengah kosong di sudut sana. Sudut hati yang belum tahu muara.

Sejenak aku terdiam. Tak terduga seluruh cerita yang masih linglung mencari titik akhir. Sebentar lagi usiamu tiga puluh tahun. Mereka-reka ulang tiap masa yang sesungguhnya. Hati-hati melangkah. Tubuh jiwa barangkali butuh istirahat sekejap dalam prahara. Ingin mencabut akar pahit dari hatimu hingga tak tersisa, lelakiku. Tunggulah sebentar, aku sedang mencari tahu caranya. Sudikah?

Merasuk ke noktah paling dalam semacam onak paling jalang. Emosi kita seringkali larut mengurai seluruh genderang keributan yang rusuh menemui akhir dan kita pun selalu menahannya keras. Merindu bercengkerama dan melukis langit. Menemukan bintang paling terang dan menamainya satu. Sekecil apa pun rasa yang tersisa di ujung senja, aku masih sanggup memungutnya rapi.

Apa kabar Sentani, lelakiku? Bersamamu mengangkangi geliat resah yang belum usai. Kekuatan ini muncul saat aku memegang pena dan menuliskan namamu di tiap helainya. Melewatkan separuh putaran malam yang mengunjungi rumahmu di kejauhan. Aku di sini, kau di sana. Merambah seluruh hasrat untuk menarikmu kembali untuk bercinta hingga pagi. Menjadi manusia yang menantang derai tawa. Lihat ujung jariku. Arahnya menunjukmu. Menyambutmu di tepi bukit. Aku menunggumu dengan sebatang rokok di tangan. Bisakah kau berlari lebih cepat?



Bandung, 16 Agustus 2012

Sepenggal Bias-18

Wajahnya menua, badannya berubah kurus. Dengan jaket hitam yang di dalamnya terdapat t-shirt biru, celana jins, dan topi cokelat. Potongan rambut dan wangi parfum yang masih sama. Ketukan pintu pagi sekali memaksaku mengenali tubuh pria itu. Ternyata itu kau.

Aku tergesa mencuci muka. Sesekali membentak diri sendiri untuk bangun, saat menggosok gigi sekedar mempercayai sesuatu yang tengah terjadi.

Aku membuatkanmu teh karena kau tak suka kopi, bukan? Canggung ikut serta di suara-suara burung dekat jendela. Tak lama, aroma teh dan kopi tercium. Pukul enam lebih dua puluh menit. Pagi sekali seperti kebiasaanmu dulu yang mengejutkan. Hanya saja ini bukan Sabtu. Baru hari Selasa.

Kita terdiam. Tiga puluh menit yang kaku berlalu perlahan. Barangkali kita masih saling tak menyangka. Aku mengirimkan pesan singkat pada seorang kawan. Ya, kawan yang tahu betul cerita kita. He looks older, begitu isinya.

Kau duduk gusar. Aku bergeser menjauh dan menyalakan rokok. Kita bicara sedikit tentang Gerard, anjingku. Gerard sudah menyatu dengan bumi hampir dua tahun yang lalu. Kau senang bermain dengannya dulu. Kau selalu membiarkannya menaiki tubuhmu dan menjilati wajahmu. Setelah itu, aku akan menyuruhmu mandi. Membersihkan bajumu yang dihinggapi bulunya yang cokelat keemasan. Menyiapkan bajumu yang lain dari lemari karena kau menyimpan cukup banyak baju di tempat tinggalku, bukan? Itu dulu. Empat tahun yang lalu.

Tiga puluh menit selanjutnya kita mulai tertawa. Namun, kau tahu cara menghentikannya. Kau mulai menatapku penuh. Aku barangkali bodoh karena mendadak bertingkah seperti perawan tahun ‘60an yang tak bisa didekati laki-laki. Aku gugup. Ya, hanya kau yang bisa membuatku bertingkah sedungu itu. “Si mie mie dor de tine”, begitu katamu. Kalimat dalam Bahasa Rumania yang dulu sering aku dengar kini terulang lagi. “Apa kabar, Burt?”. Lagi-lagi kau meniru suara Ernie. Ah, Sesame Street yang kita cintai itu selalu ikut hadir di tiap percakapan yang tak penting, bukan? Kau tahu cara mencabik dalam senyuman, lelakiku.

Aku masih gugup, aku ulangi itu! Aku tersenyum bukan hanya menutupi kegugupan tolol ini, namun juga karena menahan sesuatu yang entah harus aku namai apa. Seperti hentakan cepat, aku menahan nafas, kala aku merasakan bibirmu di bibirku. Ciuman sekilas yang seolah mematikan lampu kamar dan menyeret kita ke petak kuning dan jingga. Kamarku yang dulu. Kita belum lupa akan rasa yang dikira mati. Oh, tidak. Terendap itu bukan mati, lelakiku. Aku merasa utuh, namun tak berdaya. Ada yang mengusik diri. Meluap. Menghantam dahsyat. Perih. Tapi ada pula percik bahagia yang di sana. Hanya kau. Lagi-lagi kau yang sanggup membuatku mengaduk seluruh rasa.

Lalu, kedua kalinya aku merasakan bibirmu lagi. Kali ini terasa lebih hangat. Tentu aku membalasnya. Tak lama kita pun berbaring bersama di tempat tidur. Memandangi langit-langit. Sesekali tersenyum dan mengerling genit. Ketika aku menghadapkan tubuhku dan mendekatkannya padamu, pikiranku pergi sejenak. Apakah ini kau yang dulu berpuisi dalam malam dan mengirimku lagu-lagu sambil kita berbincang di telepon? Keningmu yang lebar, bibirmu yang tipis, hidungmu yang mancung, tatapmu yang teduh. Semua masih sama.

Kau mengusap rambutku. Mencoba menerka. Seperti tak bosan melakukannya, kita saling memagut. Lagi dan lagi. Hanya saja kali ini tak ada baju yang terlempar ke lantai. Hasrat manusiawi, luapan rasa yang masih ada atau gabungan keduanya, aku tak peduli. Masih pagi, lelakiku. Baru saja pukul delapan lebih empat puluh menit. Kau berkata sengaja cuti lebih awal dan hari ini kau hanya ingin menemuiku. Aku ingat, dulu aku sempat tak ujian dan kau tak bekerja hanya karena kita ingin bermanja. Orang boleh berkata bahwa kita bodoh, namun kita tak peduli, bukan? Ini cerita milik kita, bukan mereka.

Jam sepuluh lebih empat puluh delapan menit. Pesan singkat kawanku itu baru berbalas. Entah apa dalam pikirnya. Dia tak menanggapi serius. Namun, satu hal yang membuatku tertegun saat salah satu isinya tentang keheranan, “lagian kalian ini ya. Kagak ngarti gue. You love him, he loves you back equally, jadi ngapain jujumpalitan masuk labirin?? Kagak ada bypass apa?” Andai bisa semudah itu, lelakiku. Kita sama-sama tersenyum membacanya. Entah apa makna senyum itu. Kau hanya berkata, “she doesn’t need to understand”. Ada nada tinggi dalam pengulangan tanda baca. Ada tiga tanda tanya di pesan itu.

Aku tahu kau tak tidur semalam. Sesekali matamu sayu dan suaramu parau. Perlahan kau tertidur. Memelukmu dalam hangat mentari pagi. Ah, suasana ini begitu mencuri hati. Sering sekali kita lakukan itu dulu. Ini surga kecilku. Dia tahu apa yang tak terucap. Dia melihat sepasang manusia yang terpisah empat tahun lalu. Kemudian bertemu. Mencicipi sebentar nuansa baru ruangan yang sejuk dengan matahari pagi yang malu-malu dan burung gereja yang gaduh. Menggabungkan wangi parfum. Menyatukan rasa dalam cumbuan hangat. Menidurkan sekejap ilusi dan mimpi buruk.

You look older. Ada apa dengan ceritamu belakangan, Tuan? Adakah hati di sana? Nafasmu terasa lagi di wajahku saat kau tertidur. Detakmu jelas di lenganku yang memelukmu. Kali ini tak erat. Masih ingatkah kau dengan prosaku dulu? Ah, kau tepati janjimu rupanya. Empat tahun berlalu dan kini kau di sampingku. Jika pulang nanti, sampaikan puisiku pada ibumu. Semoga dia tahu makna menunggu. 


*terinspirasi ketukan pintu pagi hari dan catatan kecil yang ditemani lagu cantik Coleske - My Only.

Tulisan sambutan untuk puisi agung karya Sitok Srengenge :

Jika tak mampu kau ucapkan, tulis aku
Mungkin sebagai surat cinta yang menyeru rindu
Atau alasan bagus untuk mangkir dari kerja
demi percumbuan kudus pada paha Selasa
Sebab bila di pagi itu meriwis gerai gerimis
suara-suara yang dipingit langit pun terurai desis
Sebagian dari mereka mungkin gema erang Hawa,
kala Adam memagut buah terlarang kali pertama


Terima kasih tak terkira untuk salah satu teman baik saya, Sari Amelia, atas kesetiaannya pada cerita kami selama empat tahun ini. Tuhan memberkati!


Bandung, 14 Agustus 2012  

Sepenggal Bias-17

Khutbahku tentang rindu. Menelisik di tiap degup yang sembunyi di balik keluh. Seringkali merindu deru nafas itu. Berpeluh mengejar nadi yang malu-malu mengucap desah. Kau perlahan menyingkap gaun yang gamang terlempar di lantai. Menuju sudut-sudut kala remang mulai terasa akrab. Ada hangat yang senantiasa hadir saat kita saling memagut. Menorehkan kata yang kaku di ujung bibirmu.

Bagaimana denganku? Aku menukil tiap kancing kemeja hitammu. Sesekali terburu. Kadang-kadang melambat. Kita beradu di tawanan dewa dewi. Duhai, jika pun rasa tak kenal usai, mengapa kita tak hendak bermuara dalam sebuah cumbuan hangat semesta?

Tatapanmu. Kita roboh dalam geliat sanubari yang tak bosan menggetarkan rindu. Kau menggelinjang di antara musik kesekian haluan jalan kita. Ada tetes suci berakhir di sana. Aku beranjak menuju tepi tempat tidur. Mengambil pelan titik-titik harap yang sedari dulu kita gambarkan di kaki langit jingga. Menggenggam erat seluruh kata yang tertahan di pelupuk matamu. Kita akan bersahabat dengan jarak yang sementara, lelakiku. Ini hanya bagian kecil dari selaksa cerita yang kita kumpulkan saat tongkat itu menghujam tanah dan kita merenta.

Lebih baik tarik selimutmu. Aku masih berbaring di samping. Mencoba menidurkan segala tangis dan menggantikannya dengan kedipan-kedipan baru hasil dingin yang dicipta malam. Ada usapanku di punggungmu, bukan? Kita barangkali dibungkam adat-adat yang latah. Aku masih bertahan dengan rumusan kental dalam kotak yang cedera. Aku yang masih ingin tahu tentangmu. Tentang sesuatu yang kau simpan di lemari musim. Aku menyimpan catatan merah jambu yang kau beri dalam malam membalas empat belas waktu. Kitab mantra Januariku ada untukmu. Sekarang tidurlah. Satu kecupan manis menutup salamku.



Bandung, 11 Juni 2012

Sepenggal Bias-16

Mengulang ucap rindu. Menggagahi tiap celah di hati dan memaksanya untuk jujur. Dudukkan prahara itu di muka jerami, lelakiku. Kita bakar bersama titian sepi yang gelagatnya sanggup menjepit mimpi.

Sekabut perih menelusup masuk mensyukuri tiap tetes embun. Pongah dan tertawa lepas. Kita harus berdamai dengan pagi. Menyalami anak-anak puisi yang mengkebiri sendu. Ada sakit di namamu saat meracuni senja. Diputar lagi seluruh kedip yang terpejam membayangkan sosokmu dalam inchi. Telanjang bersama menyatu dengan samudera. Tengadah berdua menantang angkasa. Bercinta dalam waktu. Memacu kata yang kita sebut dengan sukar.

Sajian-sajian penghantar kidung penuh puji ikut hadir masa itu. Kita duduk khidmat. Sibuk mencari kata yang diterjemahkan sebuah pelukan suci dan genggaman tangan penuh tanya. Kapan lagi kita sertakan dendang dalam elegi?

Kemudian kau berbaring. Mengumpat tentang hukum yang dungu membiarkan kita terpisah adat. Jauh disana kau katakan bahwa hati tak kenal luruh di bawah payung berhala. Aku merindu wangi khasmu kala bernyanyi dan parau suaramu menjelang tidur.

Sesaat sebelum turun nafas yang mengacu pada langit, aku ucapkan sekilas syair yang mengintip di jendela.



Bandung, 25 November 2011

Sepenggal Bias-15

Memelukmu di balik kehangatan sayap jiwa yang baru saja terbentuk. Memanggilmu di sela-sela gundah yang mulai memesan ruang. Ada di sana. Lelah yang menumpuk suram berkabung. Ada waktu dimana aku menjaga segala sesal. Dalam malam yang membiru. Memintamu menyambung harap. Barangkali suatu saat bisa terbebas dari serupa pilu. Hari itu terakhir kali kita menjemput senja dengan hujan gerimis yang ikut memenuhi sabda.
 
Dini hari ini. Masih dengan sepi yang sama. Masih dengan lisan yang tak henti menyebut rangkaian larik puisi. Bertahan dengan samudera. Kala wajah mulai pucat dan asap yang sedemikian mengepul pekat, ada ujung yang sesaat lagi tertuju. Kelabu. Itu tepinya. Bantu aku putar haluan. Jika ada karang menjulang, biarlah diri ikut redam di dalamnya.
 
Mungkin saja aku berkenalan dengan sebuah kata untuk menyerah. Bukan untukmu. Namun, aku tujukan kepada seluruh ruah rasa yang tak tahu arti tepi. Rapi terbungkus kain sutra yang aku tabung dari rangkaian malam saat kita berbagi tawa. Apa kabar langit kamarmu, lelakiku?



Bandung, 25 November 2011

Sepenggal Bias-14

Oya, aku lupa. Sepekan itu kita mendulang waktu yang membisu. Berganti bulan dan tahun. Ada cuplikan waktu yang terpahat. Bentuknya belum berubah. Kayunya masih sama. Belum selesai. Gores-gores yang kita buat menjadikannya sesuatu yang lain. Patah di ujung kirinya terjatuh, saat kita ucap melangkah sendiri.
 
Lelucon kehidupan. Hanya itu yang membuat kita salah bergurau tentang semesta. Mesin raksasa yang mengamini konspirasi apa pun. Sudah barang tentu mempersiapkan kematangan. Ya, sampaikan salamku pada sejumput duri pada dia yang kau panggil ibu. Benci ini tak pernah kenal kata lapuk. Tak ada sedikit pun tersimpan perkara adat di benakku. Siapa peduli kala kita lelah? Siapa yang berikan bahu hanya untuk menangis itu? Aku tertawakan saja.
 
Ingin rasanya berlalu, kemudian berlari. Tadinya aku ingin kita simpan cerita saja dulu. Baru nanti jika sama-sama mengerti warna jingga, kita bisa saling menatap lagi. Lalu, apa makna sapamu yang lagi dan lagi ini? Di tiap sudut kau simpan salam. Tak ada yang aku balas. Melihatnya pun membongkar pedih.
 
Tak sengaja. Kotak biru itu aku sentuh dan kita bertatap muka. Jika pun ada yang lebih dari tiupan selatan, barangkali itulah yang aku rasa. Getar yang bercampur lelah. Ada sedikit percik hentak yang berujung pada getir. Ini nadir, lelakiku.
 
Tak sengaja. Ada berat yang cepat tertancap ketika tanganku bergerak menyudahi. Ada tatapan sejuk disana. Gaya rambut yang dulu aku pinta. Ada senyum sedemikian hangat. Bagaimana aku bisa beranjak dari kursiku kini? Pesona itu milikmu, lelakiku. Utuh dan tak tergapai tangan.
 
Satu jam terlewati sudah. Kita bicara tentang tulip, es krim, atau ubi yang dulu kita beli untuk temanku. Saat itu kita bahkan begitu dekat. Berselimut putih bersama. Kau tidur lebih awal, sedangkan aku baru terpejam menjelang pagi. Kita siapkan sarapan bersama. Kini, kita pintar memainkan peran. Berbaju sandiwara teater mapan. Sesekali menarik nafas panjang kala penghayatan tokoh begitu menyesakan dada.
 
Di akhir, kau tanyakan Ernie dan Burt. Demi Tuhan, lelakiku, luruh sudah pertahananku. Aku pikir, tangisanku yang dulu sempat jatuh ke lenganmu dan kau hanya diam, tak ‘kan terulang lagi di hadapanmu. Tanganmu memang tak menyentuhnya sekarang, namun ada yang hinggap begitu jalang di hati. Kau terdiam lagi. Si mie mie dor de tine, katamu lagi. Pelan dan hampir tak terdengar. Aku pamit tergesa.

 
*terinspirasi obrolan singkat setelah makan malam. Saya menatap mereka. Boneka Ernie dan Burt dalam Sesame Street. Dua tokoh yang selalu kami mainkan dalam obrolan sebelum tidur dulu.



Bandung, 17 Juni 2011

Sepenggal Bias-13

Kau masih sendiri, sahutmu seraya melesatkan ricuh dalam diri. Ada tanya yang mengganggu dan terus mengejar. Ada apa dalam kesendirianmu? Kau tak menjawab. Hanya menarik nafas panjang sambil memainkan pena. Aku bahkan masih ingat caramu yang menutupi gugup. Walau kita tak saling bertatap muka, namun aku tahu kau lakukan itu.
 
Sesekali hening di seberang sana. Mengapa permainan kartu ini enggan usai? Jika kau harus keluarkan kartu paling tinggi, lemparkan saja. Kau jadi juara. Tidakkah kau tahu, menunggumu yang sibuk menunda-nunda itu membuatku bersenggama dengan pedih? Kau bertahan. Berusaha mengintip kartu-kartuku yang kau bahkan tahu, aku pasti kalah. Lantas, menyudahi pun kau enggan. Kau hanya ingin menatapku yang gusar menunggu giliran, bukan? Kau tak tahu bahwa suaramu malam itu membuatku berkaca pada arca. Aku mematung. Detak seolah nyata di telingaku sendiri. Kau tak pernah tahu jika kau hadir, dengan sigap kerdil mengancam diri.
 
Aku sudah tak sendiri, giliranku berkata. Suara kecil di sudut menyahut, masih kau yang memiliki puja itu. Namun, kau berhenti pada langkah dan gontai putar haluan, lelakiku. Lantas, apa yang bisa aku gadaikan lagi, kala seluruh wahana tersihir olehmu? Perbincangan akhir kita dulu ada pada masa tetes itu berlabuh di lenganmu, demi dia yang kau panggil ibu! Dari rahimnya, kau bercengkerama dengan semesta. Aku? Aku kukuh mengikis rasa yang kita semai bersama. Sampai pada satu jentik, aku pun enggan.
 
Permisi, adakah hati disana? Barangkali terlalu lama kau sendiri, hingga kau gagap menerjemahkanku, sedangkan aku dengan tergopoh menafsirkanmu. Kita gagal dan mari sama-sama akui itu. Kau tinggal memberi sajak padaku dan aku akan katakan ya dengan sebuah anggukan kecil, lelakiku. Kau tak lakukan itu. Kau masih juga sibuk mengatur nada dan menyentuhku sesekali.
 
Aku bersamanya kini. Adakah yang ingin kau sampaikan padanya? Dia terlampau sederhana untuk kau pandang rumit. Dia yang ada pada saat kau berputar dulu. Dia yang seringkali mengaku tak tidur dan aku mendapatinya dengan tatapan lelah. Keletihannya yang dibalut dengan senyum menyambit tiap buih rasa yang aku masih simpan untukmu! Dia yang justru menemani saat pergantian tahun. Dia yang selalu sisakan waktu untuk menghubungiku sekedar mengucapkan selamat atas hari lahirku. Dia dengan puisi-puisi kecilnya. Dia yang menatapku penuh saat aku bercerita tentangmu! Tidakkah kau tahu itu?
 
Suatu saat kita bertemu lagi, lelakiku. Mungkin nanti kau akan siapkan semua catatanmu dan menceritakan aku kisah penantian dan kesendirian itu. Aku pamit. Dia telah menggandeng tanganku dan memberi pagi dengan nuansa lain. Tanpa adzan subuh. Tanpa doa berdua. Namun, aku yakin bahwa Tuhan kita sama. Semoga bahagia disana.



Bandung, 30 Juni 2011  

Sepenggal Bias-12

Barangkali keliru. Ini lebih dari sekedar menyakitkan. Sebuah pesan singkat tiba-tiba masuk malam tadi. Berisi anggukan kecil. Entah apa yang ada dalam pikirnya. Sudah lama berlalu. Namun, hentakan kasar itu masih juga memecah sunyi. Menambah daftar panjang ruas-ruas perih. Aku tahu itu caramu menghibur, duhai mentari rinduku. Adakah yang lebih sederhana ketimbang salam suci? Ketukan tawamu yang tinggal sepenggal itu memaksa aku mengurai sajak-sajak yang mulai usang. Hampir berkenalan dengan usai.
 
Kau masih sendiri disana. Aku sudah melewati selaksa senja dengan lagu-lagu yang mengulum rindu. Menghitung masa yang seringkali biadab memancung rasa. Meruahkan sesal yang bertumpu pada hujan sore. Ya, hujan kala itu terakhir kali kita bergenggaman tangan. Ketika itu kita bahkan gagap mengeja hari. Melepas bulan saat kau baru saja berulang tahun. Meninggalkan pigura kecil yang dengan setia aku simpan. Menatap senyummu tiap aku baru saja membuka mata.
 
Apa kabar langit kamarmu, lelakiku? Tidakkah kau lelah menipu waktu? Seruan hijau kembali menunjuk tepi hati. Jangan terlalu lama duduk disana. Kau tak 'kan temukan aku. Ini aku yang menyiram surga dengan wangi tetes doa yang seringkali letih memanggilmu. Aku disini yang lupa pada mentari saat gantikan bintang. Aku yang memegang dadu dan enggan menghempasnya. Aku yang mencinta judi paling jalang di semesta lewat mantra-mantra dari kitab Januariku.
 
Pesan singkatmu malam tadi mengajariku tentang jengah yang berhamburan di atas lentera hati. Untukmu, lelakiku, barangkali memang kita harus berdamai dengan pagi.

 
*terinspirasi lagu Tori Amos-Sleeps with Butterflies yang membantu saya meredam geliat yang berdenging atas sebuah pesan manis yang mengejutkan dan memasung ikrar lagi tentang keletihan.



Bandung, 29 Juni 2011

Sepenggal Bias-11

Bangku itu kosong. Hampir berdebu. Dekat tirai sebelah barat. Kadang aku ingin duduk lagi disana. Mencium aroma pagi dan mengutuk anak-anak penduduk sekitar yang gaduh di sore hari atau anak SMA yang sibuk menyalakan motornya.

Selalu tentang waktu. Menyempurna menuju kesunyian paling agung. Dulu kami sama-sama menatap langit. Saling bercumbu dan tak pedulikan kantuk. Remang dalam nuansa getar yang pekat. Suara sungai terdengar merdu sekali. Perlahan hanya nafas yang memburu begitu kencang mengetuk-ngetuk telinga.

Ya, kami hanya menikmati itu. Ketika helai demi helai kain berujung di lantai. Ketika hangat tubuhnya menyepakati keluguan hasrat yang tinggal menunggu angguk. Ketika hari mulai pagi dan selimut menjadi basah dengan peluh.

Kita sejenak menjadi liar. Memangsa tiap perih dan memenjarakannya di tepi hati. Walau hanya hitungan jam mencuri waktu untuk sekedar saling memeluk. Di tempat itu kita rebah. Menghunus luka dan melirik bahagia. Kita bahagia. Sangat bahagia.

Jika ada sebuah kata yang kita sebut dengan sempat, layakkah ciuman itu terulang? Sekedar menggenapkan rasa yang dulu utuh di genggamanmu. Hanya untuk mengulang keindahan yang dulu kita gantungkan di langit-langit jiwa. Untuk menjamu masa lalu yang seringkali biadab memukul ingatan. Bertukar mimpi di tempat tidur.

Aku ingin mendengar lagi suaramu yang parau di dini hari, lelakiku. Nyanyikan lagi lagu-lagu itu. Aku akan membayarnya dengan dongeng. Kau suka dengan kisah Tono dan Wati, bukan? Tentang piala yang seringkali terlupa di lemari. Berdebu dan akhirnya usang. Kau suka aku yang menirukan suara Doraemon mengeluarkan baling-baling bambu. Kita masih juga menonton Sesame Street. Tentang Burt dan Eddie yang konyol. Tentang monster yang rakus. Tentang Elmo yang sibuk mengajari anak-anak berhitung.

Aku merindukan akhir pekan itu, lelakiku. Ketika aku berpuisi pada-Nya agar kau segera pulang dan Dia tak menyahut. Aku pun mulai enggan mengadu lagi untuk memintamu mengganti bingkai lukisan kita yang sebentar lagi memuai entah kemana.


*terinspirasi dari Bryan Adams-Please Forgive Me. Still feels like our best times are together. Feels like the first touch. We're still gettin' closer baby. Can't get close enough. I'm still holdin' on. You're still number one.



Bandung, 1 Februari 2011