Tampilkan postingan dengan label pelangi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label pelangi. Tampilkan semua postingan

Rabu, 15 Agustus 2012

Pelangi-2

Membimbing tanya menuju pelabuhan terakhir. Memotret keseluruhan cerita dalam pigura waktu yang berhulu pada sumpah agung. Katakan padaku tentang sambutan meriah setelah ucap berderma di sehelai kain putih milik mereka yang hanya kita gunakan sehari. Ini babak penuh rencana. Kau menatap matanya dan aku mendengarmu khidmat. Sesaat sebelum akhir kalimat, ingatanku berputar cepat ke tempat itu. Kau dengan dua ranselmu dan aku menunggumu dengan jaket kuyup. Satu pelukan menyapa kita erat.

Dengan langkah tanpa ragu, kini denting kecapi dan alunan seruling menemani kita. Segelas bandrek panas, sepotong kue berbalut daun nan sederhana, dan selembar kain batik khas turut serta merangkum masa. Hanya kita yang tak bisa diam ikut menari. Tak banyak orang tahu, janjiku dulu. Kau hanya memberi anggukan tanpa berkata apa pun. Kita berguru pada kata sepakat.

Mereka boleh bicara tentang Tuhan yang terbagi dalam kotak, namun kita tidak. Tuhan kita sama. Mereka tak tahu makna berpuisi bersama. Mereka enggan duduk semeja. Mereka tak mengerti bahwa minum kopi bersama sanggup redakan amarah. Mereka tak tahu kita yang sempat tertatih. Mereka tak bisa menyelami samudera yang tercermin di biru bola matamu.

Kita pernah lelah, bukan? Kita jengah dengan sindiran mereka tentang Tuhannya. Barangkali mereka tak tahu arti sujud yang panjang menghayati keesaan-Nya. Mereka enggan mengakui bahwa Tuhan kita sama. Mereka tak paham pengkhianatan yang seolah suci itu.

Sekarang mari ikuti aku. Sambil melihat kunang-kunang di kebun, kita duduk berdua. Menikmati dingin dan bau kayu bakar disertai sayup anak-anak mengaji di kejauhan. Berbagi denganmu tak ‘kan sampai tamat. Jika pun kita terpisah raga, aku butuh seribu tahun lagi mengenalmu. Aku ingin kita saja yang bicara. Pakai kacamatamu yang dulu sempat kau simpan, saat aku berkata kau nampak terlalu serius dan jangan gunakan lagi. Kau mengambilnya, tersenyum, kemudian duduk di sampingku lagi tanpa bicara. Mengunyah singkong rebus, meminum kopi hitam, lalu sendawa. Dengan sarung yang terlalu kecil, kau bergeser. Aku tahu ini akan terjadi, sahutmu. Aku pun tahu. Hanya saja enggan bicara padamu. Kita menatap kosong ke depan. Ah, barangkali ini hidup penuh pesona, kataku. Aku menggenggam tanganmu. Mari tidur, ajakku. Kau terdiam sejenak. Semoga ini bukan bagian dari bunga tidur kita, katamu setengah berbisik.


*terinspirasi oleh Lea Salonga - Two Words yang membuat saya berani memenggal malam dan berpuisi menyematkan namanya di sana.


Bandung, 11 Juni 2012

Pelangi

Mungkin ini yang aku sebut dengan kepekaan jeda. Bisa saja kehadiran mengagumkan ini hanya bagian kecil yang terpahami lewat lirik-lirik senandung malam. Aku bisa saja bicara pada buih. Aku bisa pula menarik hati yang terhenti di barat daya kala itu. Namun, ini barangkali yang dimaksud dengan rupa. Paras ini begitu agung memecah pernik yang kian pekat. Aku hanya menggantung selembar puisi di atas ranting. Mencoba menerka tiupan angin yang sedari tadi bermain-main dengan rambutku. Aku melenguh sekejap.

Lantas, percakapan pun dimulai. Bagiku, ini hanya perkara kesedian mengoceh hiruk pikuk semesta dengan Tuhan sebagai dalangnya. Namun, baginya ini bagian dari kesetiaan menghamba. Aku terdiam. Dia menggenggam tanganku dan menatapku dalam. Aku mulai gusar. “Sejauh sepi yang biru di telaga, aku seberangi tertatih dengan sampan. Kau di sana. Bagaimana jika kita berkirim peluk dan berpuisi bersama?” katamu kala itu. Aku menjawab, “aku enggan melakukannya. Berkirim seolah jauh. Kita akan lakukan itu suatu saat nanti. Pasti!”

Kemudian waktu berselang. Kita berpuisi di sebuah kedai kecil milik kawanku. Di tengah merdu adzan maghrib dan hujan deras. Aku melihat akhir larik; ya, ini cinta.


*terinspirasi oleh Bruce Springsteen – Secret Garden yang ikut menemani kami berpuisi petang itu.


Bandung, 11 Juni 2012