Rabu, 29 Agustus 2012

Sepenggal Bias-22

Aku duduk di sini. Memangkas ilalang kecil-kecil. Mengitari naluriku sendiri. Lalu, menyusun sebagian remah hati yang tercecer sejak ada dia dalam rahimnya. Ada hasil nafasmu yang tersenggal, peluhmu yang deras, dan erangannya yang liar. Ada desahannya yang tersimpan rapi di bantal itu. Ah, bantal. Kita sering menghabiskan waktu di bantal yang sama, bukan? Bantal yang sempat kau beri nama dengan dungu itu.

Aku menggambarkan seluruh cerita jalang itu. Kisah yang kau tawarkan padaku untuk aku ludahi! Jika malam pun menjadi bungkam atas segala tanda kecil lelah manusia usai bercinta, aku robek seluruh bingkainya dan melemparnya ke sudut pintu! Menyakitimu, aku tak kuasa. Demi malammu yang penuh dengan degup cepat. Untuk tiap detik persenggamaan manusia yang lupa semesta. Demi seluruh bongkahan yang dulu pernah ada. Ingin menunjuk mukamu dan meletakan seluruh asa yang utuh lalu jatuh di sebuah panggilan ayah!

Permisi, adakah cinta di sana? Adakah rasa di sanubari saat perlahan kau menenggelamkan kepalamu di sela nafasnya yang memburu? Adakah aku yang malah tercermin di wajahnya itu? Saat dorongan tubuhmu semakin cepat dan keringat yang membaur, tak sekejap pun aku sudi mengakuinya. Bukan aku yang berbaring lunglai saat kau menghembuskan nafas panjang sebagai tanda kebinalan itu usai. Ya, binal! Aku ucap binal karena ada dua hati yang terduduk tolol di tepi tempat tidur. Sakit, lelakiku. Tahukah kau arti kata itu?

Sebentar lagi dia lahir ke bumi, bukan? Jangan pernah bacakan puisiku padanya, ingat itu. 


Bandung, 30 Agustus 2012 

Sepenggal Bias-21

Aku ingin menanggalkan biru dalam hempasan dekap yang terbaring di sepinya langitmu. Menjawab seluruh kicauan yang selama ini bicara tentang kita. Meninggalkan tema-tema usang yang melapuk di kaki sungai. Aku ingin mengalungkan seluruh emosi padamu, lelakiku.

Kita seringkali lelah memuja mimpi-mimpi kecil yang ternyata berakhir dengan sebuah pelukan. Di sini berhenti menyiram bunga-bunga asa yang letih menggauli tiap hentakan waktu. Aku ingin kamu, sahut seorang gadis di cermin dengan suara sayup. Ah, permainan dadu hanya sementara. Aku kalah.

Simpan saja cinta pada desahan ranting yang menyambutmu minggu lalu di utara. Andai saja aku benar-benar peduli, barangkali kita tak akan pernah berpikir untuk mengurai jerit. Pelan-pelan kita masuk ke dalam celotehan konyol itu. Menyakitkan saat ada dia di sampingmu untuk sekadar berkata selamat pagi. Kita terengah terhalang waktu.

Aku membaca garis-garis imajinasimu yang tergambar jalang saat kau berpeluh di sampingnya. Bah! Jangan sampai aku meneruskan cuplikan itu, lalu mengutukmu tak henti! Aku tahu bahwa aku kalah.

Kau tahu rasa ini menjagamu dari geliat perih yang biasa kita lewati bersama. Ya, aku berjalan sendiri kala itu, sedangkan kau melangkah pergi.

Dimana hati saat kau bahkan tak mengunjungi deretan sesak yang aku simpan tak beraturan di langit-langit? Aku melukis rindu sendiri di sela rintih. Siapa yang membuatmu paham arti sebuah penantian? Dia atau mereka yang hanya ingin tahu dan tak pernah peduli? Aku tak ingin menggali ciuman yang berhenti karena usai ikut duduk di sela-sela kita.

Seharum ingatan, kau tahu apa itu mencinta. Kita sempat bersama beberapa waktu. Tubuh indah yang tercerap mata sesekali mengaku ingin pulang. Kau tak di sana.

Keajaiban termanis berhenti di ujung pintu. Kau tahu apa itu merindu? Mengucapkan namamu di sedetik menuju tidur. Melafalkannya pada pesan singkat untuk kawanku. Mencuri wangimu yang diam di meja tempatku berpuisi. Sampaikan padanya yang sebentar lagi menjadi ibu, aku tak ikut serta kali ini. Habis cerita.


Bandung, 24 Agustus 2012

Kerikil Hitam-10

Seperti Natal atau Sabatmu, aku termangu. Andai bisa terdiam sendiri dalam surga kecil dan tak perlu merasa diperbudak keadaan, aku enggan pulang. Sejak dulu aku benci mengalah. Benci satu kata pecundang yang seringkali diputar di kepala, kekalahan. Boleh jadi ini benturan keras yang muncul berulang.

Siapa dia? Perempuan yang sempat menyimpanku di rahimnya selama sebelas bulan.

Berbuatlah seibu yang kau mampu dan jangan kotori dengan cela sedikit saja. Anggaplah aku bergurau. Meracau. Namun, tahukah kau? Mencercamu, aku tak kuasa. Meski hati mengutuk-ngutuk, aku bungkam dan menulisnya menjadi puisi. Ah, tidak. Aku tak berpuisi pada-Nya dan menyematkan namamu di sana. Aku bahkan enggan begitu. Tahukah kau tentang jengah di ubun-ubun kala kau lupa pada dirimu?

Siapa kau? Perempuan yang sempat menyimpanku di rahimnya selama sebelas bulan.

Aku menyusuri sungai dan mencari-cari kerikil kecil. Ada pecahan kaca di sana. Kau yang melemparnya. Sebut saja maumu dan aku ikuti. Namun, jangan pernah memintaku lagi untuk itu. Aku tak sedang menggurui. Aku hanya memberikan sesuatu yang barangkali orang lain tak sanggup melakukannya padamu. Aku tahu, hidupmu penuh dengan goresan abstrak tak beraturan.

Namun, bisakah kau tak ulangi seruan laknatmu yang selalu terucap di tiap gundah? Ah, kau tak tahu apa itu ibu. Hangat dan wangi rahimmu tak seperti kata-kata durjana yang sering kau teriakan saat merasa sepi! Panggil aku sang durhaka sesuka hatimu. Aku tak ‘kan gusar sebab letupanku tak di sana. Ledakanku ada saat kau menghilang lagi dan lagi, kemudian aku harus mencarimu. Berhentilah menjadi ratu dan simpan telunjukmu di balik selendang kesombonganmu yang menjijikan itu.

Siapa kau? Perempuan yang sempat menyimpanku di rahimnya selama sebelas bulan.

Seperti Natal atau Sabatmu, aku termangu. Enggan pulang sebab aku benci mengalah. Kau yang ajarkan itu dulu, bukan?


Bandung, 18 Agustus 2012

Sepenggal Bias-20

Kau sedikit terlambat, sesalku. Aku sangat terlambat. Kita memang terlambat mengumpulkan lagu rindu yang menumpuk di ujung pintu. Mempersembahkan seonggok jerami kering untuk sekadar menambatkan mimpi pada sisa-sisa angin. Kita enggan memalingkan wajah pada neraca gundah yang menyentuh sekujur tubuh.

Kita terlambat menuai janji lalu. Ah, kita sibuk menerka. Mereka-reka. Membaca garis-garis takdir. Seolah dungu menemukan titik akhir, kita hanya bermain dengan hujan. Kita gagap menghitung keniscayaan yang penuh ilusi tanpa kisi-kisi. Kita hanya mampu marah tanpa meledakannya pada sumbu di sudut sana, lelakiku.

Dari kejauhan menggoda-goda, berceloteh manis. Siapakah pemilik senyum itu?


Bandung, 22 Agustus 2012

Jumat, 17 Agustus 2012

Sepenggal Bias-19

Ada pesan singkat yang masuk saat aku tidur. Semalam tak tidur memang melelahkan. Tadi pagi aku habiskan untuk membaca tulisan beberapa orang teman. Aku bahkan tak sadar bahwa hari telah gelap. Terbangun pun karena gaduh penghuni lantai atas dengan nyayiannya. Aku membuka ponsel. “Is there still a lot of birds outside? Mother Theresa said, life’s like a song, just sing it. Si mie mie dor de tine”, begitu isinya. Masih kau. Perkataan Bunda Theresa itu sempat aku kirimkan pagi, sebelum kau berangkat kerja dulu. Burung-burung pun masih senantiasa gaduh dekat jendela, lelakiku. Tiap pagi dan sore mengisi ruang setengah kosong di sudut sana. Sudut hati yang belum tahu muara.

Sejenak aku terdiam. Tak terduga seluruh cerita yang masih linglung mencari titik akhir. Sebentar lagi usiamu tiga puluh tahun. Mereka-reka ulang tiap masa yang sesungguhnya. Hati-hati melangkah. Tubuh jiwa barangkali butuh istirahat sekejap dalam prahara. Ingin mencabut akar pahit dari hatimu hingga tak tersisa, lelakiku. Tunggulah sebentar, aku sedang mencari tahu caranya. Sudikah?

Merasuk ke noktah paling dalam semacam onak paling jalang. Emosi kita seringkali larut mengurai seluruh genderang keributan yang rusuh menemui akhir dan kita pun selalu menahannya keras. Merindu bercengkerama dan melukis langit. Menemukan bintang paling terang dan menamainya satu. Sekecil apa pun rasa yang tersisa di ujung senja, aku masih sanggup memungutnya rapi.

Apa kabar Sentani, lelakiku? Bersamamu mengangkangi geliat resah yang belum usai. Kekuatan ini muncul saat aku memegang pena dan menuliskan namamu di tiap helainya. Melewatkan separuh putaran malam yang mengunjungi rumahmu di kejauhan. Aku di sini, kau di sana. Merambah seluruh hasrat untuk menarikmu kembali untuk bercinta hingga pagi. Menjadi manusia yang menantang derai tawa. Lihat ujung jariku. Arahnya menunjukmu. Menyambutmu di tepi bukit. Aku menunggumu dengan sebatang rokok di tangan. Bisakah kau berlari lebih cepat?



Bandung, 16 Agustus 2012

Sepenggal Bias-18

Wajahnya menua, badannya berubah kurus. Dengan jaket hitam yang di dalamnya terdapat t-shirt biru, celana jins, dan topi cokelat. Potongan rambut dan wangi parfum yang masih sama. Ketukan pintu pagi sekali memaksaku mengenali tubuh pria itu. Ternyata itu kau.

Aku tergesa mencuci muka. Sesekali membentak diri sendiri untuk bangun, saat menggosok gigi sekedar mempercayai sesuatu yang tengah terjadi.

Aku membuatkanmu teh karena kau tak suka kopi, bukan? Canggung ikut serta di suara-suara burung dekat jendela. Tak lama, aroma teh dan kopi tercium. Pukul enam lebih dua puluh menit. Pagi sekali seperti kebiasaanmu dulu yang mengejutkan. Hanya saja ini bukan Sabtu. Baru hari Selasa.

Kita terdiam. Tiga puluh menit yang kaku berlalu perlahan. Barangkali kita masih saling tak menyangka. Aku mengirimkan pesan singkat pada seorang kawan. Ya, kawan yang tahu betul cerita kita. He looks older, begitu isinya.

Kau duduk gusar. Aku bergeser menjauh dan menyalakan rokok. Kita bicara sedikit tentang Gerard, anjingku. Gerard sudah menyatu dengan bumi hampir dua tahun yang lalu. Kau senang bermain dengannya dulu. Kau selalu membiarkannya menaiki tubuhmu dan menjilati wajahmu. Setelah itu, aku akan menyuruhmu mandi. Membersihkan bajumu yang dihinggapi bulunya yang cokelat keemasan. Menyiapkan bajumu yang lain dari lemari karena kau menyimpan cukup banyak baju di tempat tinggalku, bukan? Itu dulu. Empat tahun yang lalu.

Tiga puluh menit selanjutnya kita mulai tertawa. Namun, kau tahu cara menghentikannya. Kau mulai menatapku penuh. Aku barangkali bodoh karena mendadak bertingkah seperti perawan tahun ‘60an yang tak bisa didekati laki-laki. Aku gugup. Ya, hanya kau yang bisa membuatku bertingkah sedungu itu. “Si mie mie dor de tine”, begitu katamu. Kalimat dalam Bahasa Rumania yang dulu sering aku dengar kini terulang lagi. “Apa kabar, Burt?”. Lagi-lagi kau meniru suara Ernie. Ah, Sesame Street yang kita cintai itu selalu ikut hadir di tiap percakapan yang tak penting, bukan? Kau tahu cara mencabik dalam senyuman, lelakiku.

Aku masih gugup, aku ulangi itu! Aku tersenyum bukan hanya menutupi kegugupan tolol ini, namun juga karena menahan sesuatu yang entah harus aku namai apa. Seperti hentakan cepat, aku menahan nafas, kala aku merasakan bibirmu di bibirku. Ciuman sekilas yang seolah mematikan lampu kamar dan menyeret kita ke petak kuning dan jingga. Kamarku yang dulu. Kita belum lupa akan rasa yang dikira mati. Oh, tidak. Terendap itu bukan mati, lelakiku. Aku merasa utuh, namun tak berdaya. Ada yang mengusik diri. Meluap. Menghantam dahsyat. Perih. Tapi ada pula percik bahagia yang di sana. Hanya kau. Lagi-lagi kau yang sanggup membuatku mengaduk seluruh rasa.

Lalu, kedua kalinya aku merasakan bibirmu lagi. Kali ini terasa lebih hangat. Tentu aku membalasnya. Tak lama kita pun berbaring bersama di tempat tidur. Memandangi langit-langit. Sesekali tersenyum dan mengerling genit. Ketika aku menghadapkan tubuhku dan mendekatkannya padamu, pikiranku pergi sejenak. Apakah ini kau yang dulu berpuisi dalam malam dan mengirimku lagu-lagu sambil kita berbincang di telepon? Keningmu yang lebar, bibirmu yang tipis, hidungmu yang mancung, tatapmu yang teduh. Semua masih sama.

Kau mengusap rambutku. Mencoba menerka. Seperti tak bosan melakukannya, kita saling memagut. Lagi dan lagi. Hanya saja kali ini tak ada baju yang terlempar ke lantai. Hasrat manusiawi, luapan rasa yang masih ada atau gabungan keduanya, aku tak peduli. Masih pagi, lelakiku. Baru saja pukul delapan lebih empat puluh menit. Kau berkata sengaja cuti lebih awal dan hari ini kau hanya ingin menemuiku. Aku ingat, dulu aku sempat tak ujian dan kau tak bekerja hanya karena kita ingin bermanja. Orang boleh berkata bahwa kita bodoh, namun kita tak peduli, bukan? Ini cerita milik kita, bukan mereka.

Jam sepuluh lebih empat puluh delapan menit. Pesan singkat kawanku itu baru berbalas. Entah apa dalam pikirnya. Dia tak menanggapi serius. Namun, satu hal yang membuatku tertegun saat salah satu isinya tentang keheranan, “lagian kalian ini ya. Kagak ngarti gue. You love him, he loves you back equally, jadi ngapain jujumpalitan masuk labirin?? Kagak ada bypass apa?” Andai bisa semudah itu, lelakiku. Kita sama-sama tersenyum membacanya. Entah apa makna senyum itu. Kau hanya berkata, “she doesn’t need to understand”. Ada nada tinggi dalam pengulangan tanda baca. Ada tiga tanda tanya di pesan itu.

Aku tahu kau tak tidur semalam. Sesekali matamu sayu dan suaramu parau. Perlahan kau tertidur. Memelukmu dalam hangat mentari pagi. Ah, suasana ini begitu mencuri hati. Sering sekali kita lakukan itu dulu. Ini surga kecilku. Dia tahu apa yang tak terucap. Dia melihat sepasang manusia yang terpisah empat tahun lalu. Kemudian bertemu. Mencicipi sebentar nuansa baru ruangan yang sejuk dengan matahari pagi yang malu-malu dan burung gereja yang gaduh. Menggabungkan wangi parfum. Menyatukan rasa dalam cumbuan hangat. Menidurkan sekejap ilusi dan mimpi buruk.

You look older. Ada apa dengan ceritamu belakangan, Tuan? Adakah hati di sana? Nafasmu terasa lagi di wajahku saat kau tertidur. Detakmu jelas di lenganku yang memelukmu. Kali ini tak erat. Masih ingatkah kau dengan prosaku dulu? Ah, kau tepati janjimu rupanya. Empat tahun berlalu dan kini kau di sampingku. Jika pulang nanti, sampaikan puisiku pada ibumu. Semoga dia tahu makna menunggu. 


*terinspirasi ketukan pintu pagi hari dan catatan kecil yang ditemani lagu cantik Coleske - My Only.

Tulisan sambutan untuk puisi agung karya Sitok Srengenge :

Jika tak mampu kau ucapkan, tulis aku
Mungkin sebagai surat cinta yang menyeru rindu
Atau alasan bagus untuk mangkir dari kerja
demi percumbuan kudus pada paha Selasa
Sebab bila di pagi itu meriwis gerai gerimis
suara-suara yang dipingit langit pun terurai desis
Sebagian dari mereka mungkin gema erang Hawa,
kala Adam memagut buah terlarang kali pertama


Terima kasih tak terkira untuk salah satu teman baik saya, Sari Amelia, atas kesetiaannya pada cerita kami selama empat tahun ini. Tuhan memberkati!


Bandung, 14 Agustus 2012  

Sepenggal Bias-17

Khutbahku tentang rindu. Menelisik di tiap degup yang sembunyi di balik keluh. Seringkali merindu deru nafas itu. Berpeluh mengejar nadi yang malu-malu mengucap desah. Kau perlahan menyingkap gaun yang gamang terlempar di lantai. Menuju sudut-sudut kala remang mulai terasa akrab. Ada hangat yang senantiasa hadir saat kita saling memagut. Menorehkan kata yang kaku di ujung bibirmu.

Bagaimana denganku? Aku menukil tiap kancing kemeja hitammu. Sesekali terburu. Kadang-kadang melambat. Kita beradu di tawanan dewa dewi. Duhai, jika pun rasa tak kenal usai, mengapa kita tak hendak bermuara dalam sebuah cumbuan hangat semesta?

Tatapanmu. Kita roboh dalam geliat sanubari yang tak bosan menggetarkan rindu. Kau menggelinjang di antara musik kesekian haluan jalan kita. Ada tetes suci berakhir di sana. Aku beranjak menuju tepi tempat tidur. Mengambil pelan titik-titik harap yang sedari dulu kita gambarkan di kaki langit jingga. Menggenggam erat seluruh kata yang tertahan di pelupuk matamu. Kita akan bersahabat dengan jarak yang sementara, lelakiku. Ini hanya bagian kecil dari selaksa cerita yang kita kumpulkan saat tongkat itu menghujam tanah dan kita merenta.

Lebih baik tarik selimutmu. Aku masih berbaring di samping. Mencoba menidurkan segala tangis dan menggantikannya dengan kedipan-kedipan baru hasil dingin yang dicipta malam. Ada usapanku di punggungmu, bukan? Kita barangkali dibungkam adat-adat yang latah. Aku masih bertahan dengan rumusan kental dalam kotak yang cedera. Aku yang masih ingin tahu tentangmu. Tentang sesuatu yang kau simpan di lemari musim. Aku menyimpan catatan merah jambu yang kau beri dalam malam membalas empat belas waktu. Kitab mantra Januariku ada untukmu. Sekarang tidurlah. Satu kecupan manis menutup salamku.



Bandung, 11 Juni 2012