Kamis, 16 Agustus 2012

Demi Langit-13

Mengutip salah satu dari pernyataan di sebuah cerpen karya Icha Rahmanti, meninggalkan atau ditinggalkan memiliki masa berkabungnya sendiri. Seringkali kita bermain dengan waktu. Ya, bagaimanapun kehidupan hanyalah sekedar taman bermain. Arena judi terbesar milik semesta. Tak ada yang tahu apa yang akan terjadi kemudian. Banyak konspirasi dan spekulasi. Semua orang berebut tentang mimpi dan hari esok. Namun, pernahkah kita sejenak berpikir bahwa ini permainan yang penuh dengan lelucon? Kita lahir dan akan mengakhiri kehidupan sendiri. Kelak pun tak ada yang berbagi pahala dan menanggung dosa orang lain. Kita bertanggungjawab penuh akan kedirian. Dalam hubungan jenis apa pun, manusia memiliki ruang yang senantiasa tertutup hanya untuk dirinya. Lantas, terpikir oleh saya mengenai kegunaan bersosial. Jika semua hal kembali pada individu, apa gunanya toleransi dan segala hal yang bersentuhan dengan sosial kemasyarakatan? Kita dituntut bersinggungan dengan orang lain dan berbagi cinta dengan umat manusia, sedangkan pada segala macam urusan, hal itu berbalik pada individu. Tidakkah kita berpikir bahwa ini hanyalah bentuk kepura-puraan paling nyata? Kita dibuat sibuk dengan hal di luar diri yang ujungnya bermuara pada kedirian. Titik.

Banyak hal memenuhi deretan pikiran saya akhir-akhir ini. Isu terbesarnya adalah lelucon ini. Sinis? Saya pikir tidak. Kontemplasi yang begitu radikal ini menyita daya berpikir saya. Lalu, apa tujuan manusia sesungguhnya? Bukan hanya mempersoalkan motivasi tiap individu, namun pada motivasi semesta raya yang dinyatakan eksis sejak jutaan tahun lalu. Kecintaan saya pada analisis kehidupan begitu tinggi, sehingga saya senang menghabiskan waktu dengan berpikir. Mari kita belajar membedakan antara menghabiskan dan membuang waktu. Menghabiskan waktu penuh dengan kontemplasi berbasis kecintaan pada sesuatu yang dilakukan. Namun, membuang waktu adalah bentuk lain dari ketidaktahuan penggunaan dan tindakan, sehingga hasilnya tidak bermakna.

Berbagi hanyalah tindakan yang dilakukan manusia di semesta, tidak pada perspektif eskatologis. Saya curiga bahwa dengan beragamnya umat manusia bermula dari pembentukan eksistensi aliansi masa lampau. Toh, kita berujung pada muara yang sama, bukan? Pada Tuhan yang sama. Manusia jenis apa pun memiliki percikan adikodrati yang sama. Selalu menginginkan kenyamanan dan kebahagiaan serta senantiasa membenci sesuatu yang menyakitkan. Berawal dan berakhir pada titik yang sama. Kita dibuat berbeda garis geografis, ras, agama, dan lain-lain. Kita memiliki pedoman dan panutan yang berbeda, namun secara esensi jatuh pada persamaan universal dimana cinta dan kedamaian menjadi dambaan makhluk. Sedangkan kita dibuat lelah dengan partikularisasi yang ada. Fokus manusia terpecah dengan adanya motivasi individu. Tidakkah ini menggelikan?

Jika pun ada sebuah pertanyaan dilayangkan tentang tujuan kehidupan pribadi saya, saya akan menjawab, saya hanya ingin menemukan seluruh jawaban atas pertanyaan saya. Mengurai pertanyaan dan perlahan menemukan kepingan-kepingan analisis yang terlupa. Menyempurnakannya dengan utuh. Suatu saat terwujud. Pasti!


Bandung, 15 Desember 2011

Demi Langit-12

Mendidik diri. Itu obrolan panjang saya dan seorang teman yang kini berada di Belanda terjadi begitu menarik hingga pagi. Di tengah kejengahan yang cukup membuat saya malas berhubungan dengan siapa pun, dia tiba-tiba menyapa lewat media internet. Lalu, kami sepakat untuk menyediakan waktu esok harinya. Tengah malam waktu Indonesia Barat dan pukul enam petang waktu Belanda.
 
Dulu sebelum dia melanjutkan sekolah disana, kami cukup sering berdiskusi atau sekedar bicara dari hati ke hati dari malam hingga pagi. Secangkir kopi kental hitam tanpa gula selalu dia buatkan. Ditemani berbatang-batang rokok yang menumpuk di asbak. Rasa-rasanya begitu cepat waktu berlalu. Kini usianya seperempat abad. Dia cantik, cerdas, dan sangat ramah. Seorang teman yang bahkan saya tidak pernah tahu cara dirinya marah. Teman yang selalu berusaha menyediakan waktunya, bahkan ketika dia baru saja menangis, namun masih bisa tersenyum dan mendengarkan saya yang berceloteh kesana kemari. Seorang yang luar biasa karena tingkat pengendalian emosi yang sedemikian terjaga dan saya bisa melihatnya begitu tulus lewat intonasinya yang teratur.
 
Kami berangkat dari latar belakang yang hampir sama. Kami mencintai buku, sastra, filsafat, sosiologi, dan rela menghabiskan waktu dengan mendiskusikan semesta yang tua ini. Dari mulai pembicaraan kecil tentang kegelisahan bernegara hingga keberadaan tuhan. Ya, dia bukan saja seorang teman yang saya kagumi, tapi juga orang yang selalu berhasil membuat saya mengejar mimpi, tak peduli sesulit dan sejatuh apa pun diri saya. Dia selalu sukses membuat saya berharga dan menjadi manusia utuh dengan sebuah harapan kecil yang tak henti dia pupuk. Dia bukan saja partner diskusi yang cerdas, namun juga seorang kawan yang tak pernah lelah menyisihkan waktunya. Saya begitu terpukul ketika harus memeluknya dua hari sebelum keberangkatannya ke Belanda empat tahun lalu. Saya ingat waktu itu dia menggenggam tangan saya dan berkata, “Ntan, kita tidak akan pernah berpisah karena kita berasal dari entitas yang sama. Saya akan selalu merindukan perbincangan bercumbu dengan malam yang kita sering lakukan”.
 
Empat tahun berlalu dan kami jarang sekali melakukan kontak. Kami sama-sama sibuk dengan dunia masing-masing. Pun ketika dia pulang ke Indonesia. Kami tak pernah bertemu. Keramahan dan kecerdasannya membuat teman-teman kuliahnya harus rela berbagi hari untuk bertemu dengannya. Jika dia punya waktu kosong, pada saat yang sama, saya yang tak bisa menemuinya. Begitu juga sebaliknya. Ketika pun ada saat-saat dimana saya terpuruk, saya selalu merindukan kehadirannya. Jika ada saat dimana saya sampai pada titik tinggi bahagia, saya ingin berbagi dengannya. Duduk menikmati malam yang dingin dan minum kopi lagi bersamanya.
 
Mendidik diri. Itu yang dia tekankan dua malam lalu. Menangis itu sehat dan seksi, katanya, saat saya tak kuasa menahan tangis. Masa lalu itu pahit. Titik. Betul bahwa masa lalu bisa mempengaruhi diri dan membuat kita lebih dari terluka. Namun, sebagai manusia kita memiliki kuasa untuk merubah keadaan. Anggaplah hal di luar diri kita adalah bonus. Yang terpenting adalah kemampuan menuliskan takdir sendiri melalui kreativitas. Kita adalah sentral segala persoalan. Ya, dia begitu mencintai Sartre. Ini adopsi pemikiran Sartre yang begitu konsisten dia terapkan dalam kehidupannya. Saya sendiri sama sekali tidak menggemari Sartre karena saya tidak menyepakati teorinya. Dalam kesempatan ini, saya tak akan mengurai teori tersebut karena akan ada uraian panjang yang sudah saya persiapkan di tulisan selanjutnya.
 
Ibu itu ada dalam diri kita. Menjadi orang tua bagi diri sendiri itu penting, katanya. Dia begitu geram dan marah saat melihat realitas bahwa banyak orang berlomba memiliki anak. Ini tidak adil. Ini semacam kompetisi tak masuk akal, saat anak-anak tidak dibekali pendidikan yang mapan. Ya, pendidikan. Pendidikan yang bukan saja didapatkan di bangku sekolah, namun juga pendidikan mental yang dibangun dalam sebuah pondasi keluarga. Banyak orang gagap mendidik anak. Banyak orang bingung menanamkan mental kritis dan nuansa dialog pada anak. Banyak orang tua sedemikian superior menghadapi anak-anaknya. Anak-anak tidak diberikan kebebasan untuk memilih, bahkan bersuara sekali pun. Seolah orang tua selalu benar. Berapa persen anak lulusan SD yang sanggup memilih SMP-nya sendiri? Berapa banyak anak yang bahkan untuk mengejar cita-citanya harus terhambat izin orang tua? Berapa banyak orang yang kesempatan bekerjanya harus hilang begitu saja, saat orang tuanya tidak setuju? Lebih jauh lagi, coba perhatikan berapa persen orang yang begitu bingung mengenai masa depannya, ketika dihadapkan dalam situasi memilih pasangan hidup hanya karena menunggu restu orang tuanya? Lantas, pertanyaannya adalah, tidakkah kita lupa bahwa kita adalah makhluk yang Tuhan ciptakan merdeka? Mengapa posisi orang tua bisa mengalahkan kekuasaan Tuhan yang begitu indah tentang kemerdekaan dalam berkehendak?
 
Kita akan selalu dibenturkan dengan pendapat bahwa restu-Nya turun jika restu orang tua ada. Pertanyaan selanjutnya adalah, sebegitu tergantungkah Tuhan, hingga Dia harus menunggu restu makhluk-Nya? Ini sebuah jawaban absurd dan tak masuk akal yang seringkali menjadi pembenaran superioritas kerdilnya cara berpikir orang tua. Bukankah Dia pun tak pernah mengizinkan kita untuk melakukan kesalahan dan tak perlu mengikuti orang tua yang menyimpang? Lantas, apa yang dimaksud dengan kesalahan dan penyimpangan? Kita bahkan tidak pernah dididik untuk mengetahui itu! Yang diajarkan pada umumnya adalah mengabdi pada orang tua dengan mengikuti keinginannya dan kita selalu menjadi objek duplikasinya yang irasional. Inikah yang disebut dengan kebaikan? Mengorbankan mental pribadi demi sebuah absurditas kepatuhan? Padahal kita sama-sama mengetahui bahwa apa yang kita lakukan menjadi tanggung jawab pribadi yang suatu saat kita pun akan memetik buah perilaku sendiri. Atau coba kita tarik ke dalam konsepsi teologis. Bukankah kita akan mempertanggungjawabkan semua perilaku di hadapan-Nya tanpa menanggung dosa orang lain? Maka, sejauh manakah kita paham arti kata tanggung jawab diri? Sejauh mana kita berhasil mendidik diri untuk bisa bijak mengetahui makna benar dan salah? Sejauh mana mereka sanggup menanamkan nilai yang bisa kita pertanggungjawabkan? Sejauh mana kita diajarkan menjadi pribadi yang unggul dengan berani mengambil keputusan atas pertimbangan akal sehat kita sendiri tanpa adanya superioritas buta?
 
Seringkali saya muak dengan argumen ketundukan dan keterpurukan mereka yang tidak sanggup berkata tidak atas keputusan orang tuanya. Padahal, jauh di lubuk hatinya, mereka pun membenci tindakan itu. Lalu, apakah ini bukan senyata-nyatanya kemunafikan? Bukankah perbuatan baik itu harus dilandasi ketulusan? Ketulusan macam apa yang melekat pada kemunafikan?
 
Itu inti diskusi panjang kami. Di saat yang sama, kami mencoba saling menelanjangi satu sama lain. Itu obrolan paling intim saya dengan dia. Obrolan yang begitu terbuka dan dekat. Kami bertukar cerita tentang perkembangan empat tahun terakhir dan hal-hal yang belum pernah kami bicarakan sebelumnya. Kami saling berterima kasih dan mengagumi. Mencoba menguatkan diri dengan segala tekanan yang ada. Ketika pun kita gagal mencapai sesuatu, manusia selalu menciptakan sosok ideal imajiner dalam dirinya sebagai penuntun untuk bertahan, bukan? Barangkali kegagalan adalah sebuah hal yang bisa didapatkan dalam hal apa pun. Kita tidak perlu risih dan takut mengakui ketegaran semu yang ada. Namun, itu pun tidak seharusnya menjadi sekat untuk terus berbuat sesuatu. Ya, kita manusia yang memiliki alur cerita berbeda untuk menghisap sumsum kehidupan dengan cara masing-masing. Kita manusia yang tak pernah berhenti menyempurna dalam perjalanan menuju-Nya. Kematian itu sederhana karena yang rumit adalah kehidupan. Kita hanya sedang bertahan di tengah ilusi singkat yang disebut dengan kehidupan. Bagi saya surga tak sebanding dengan cinta-Nya yang agung. Menyatu dengan-Nya lebih indah ketimbang surga yang seringkali dikejar manusia. Kita lupa bahwa keagungan cinta-Nya lebih dari surga. Cinta-Nya yang mengajari saya untuk mencintai semesta. Cinta-Nya mengajari saya makna yang lebih menakjubkan dari sekedar surga.

 
*ucapan terima kasih tak terkira, saya berikan kepada sahabat tercinta, Nadia Dwi Puri Andayani. 


Bandung, 28 September 2011   

Demi Langit-11

Bisa jadi ini akumulasi dari rentetan kejadian yang akhir-akhir ini saya hadapi. Mengguncang? Tentu. Berangkat dari sebuah niat sederhana. Hanya ingin berbagi suka dan duka kepada siapa pun itu. Pada akhirnya, saya menganggap bahwa hal ini hanya membuang waktu. Bagaimana jika Anda salah satu orang yang sudah sebegitu lelah menumbuhkan rasa percaya kepada orang lain? Jujur adalah hal yang tidak mudah memang. Menelanjangi diri sendiri untuk berani berkata dan memutuskan sesuatu pun begitu. Namun, menjadi munafik dengan menipu diri dengan berkata baik-baik saja pun bukan jawaban yang bijak. Baiklah, saya mulai belajar untuk berdamai. Setidaknya dengan diri sendiri. Saya mencoba jujur bahwa kini saya sulit untuk mempercayai orang lain. Siapa pun itu. Akut? Mungkin. Namun, keletihan yang menumpuk ini membuat saya juga membuat jurang yang begitu tajam dengan segala macam bentuk hubungan.

Beberapa tahun lalu barangkali menjadi salah satu penyebab ketidakpercayaan ini muncul. Hubungan yang tiba-tiba rusak dengan seorang teman. Ketika saya mencoba memperbaiki, ternyata tidak mudah. Lantas apa yang terjadi? Hubungan kami berubah menjadi dingin dan menjauh. Saya mencoba membuka diri lagi. Dari beberapa kali usaha ternyata berakhir sama. Maka, saya menarik nafas panjang. Berhenti mengeluh dan mengaduh. Ini terakhir kali saya ucap. Saya enggan memiliki hubungan pertemanan yang dekat lagi. Cukup itu cukup.

Ketika ini dipandang sebagai hubungan yang memiliki resiproksitas, seharusnya memang tidak tersudut dalam pihak tertentu. Namun, ternyata saya lagi dan lagi jatuh. Kesimpulan yang tidak bisa diganggu gugat saya ternyata benar. Hanya anjing yang setia menjadi sahabat. Yang lain penuh dengan kepura-puraan. Awalnya saya mencoba untuk bersikap adil. Tapi keadilan saya ternyata menjadi bumerang bagi diri saya sendiri. Saya mencoba mengerti posisi orang lain dan tanpa sadar saya sedang mengkebiri perasaan sendiri. Bodoh? Sangat! Mengeraskan hati ternyata cukup sulit. Saya seringkali tak tega melihat teman saya sendiri. Namun, ketika saya sendiri, tak ada satu pun yang mencoba menghampiri. Saya ulangi, cukup itu cukup!


Bandung, 24 September 2011

Demi Langit-10

Bicara persoalan semesta, saya pikir baru akan terhenti jika kehidupan berakhir. Warna warni kehidupan memang mengagumkan. Tentu tanpa lepas dari segala racunnya itu, ya? Bulan lalu saya menemukan sebuah tempat yang nyaman sekali. Tempat itu tak pernah melarang saya untuk bicara. Saya bisa melakukan apa pun. Tak ada yang lebih penting dari pengungkapan rasa. Tanpa kita sadari, bahkan untuk jujur pun, kita masih harus belajar banyak. Seringkali kita menjadi pendusta bagi diri sendiri.

Saya akui akhir-akhir ini saya sangat menjaga jarak dengan orang-orang yang awalnya dekat. Siapa pun itu. Saya menghindar dan mungkin ini titik paling ekstrem yang pernah saya lakukan. Beberapa di antaranya tidak saya hubungi lagi. Entahlah, bagi saya, kecewa adalah awal mula keretakan. Apalagi saya mengalami kejengahan dan itu ternyata lebih buruk dari kecewa. Saya memutuskan untuk mundur. Tak akan ada yang sama, terlepas maaf itu terucap atau tidak. Bagi saya, menyakiti adalah perbuatan yang mengkhianati kepercayaan. Ini lebih dari cukup.

Saya menemukan tempat baru tanpa ketakutan ditinggalkan lagi. Bagaimanapun juga, tak ada manusia yang nyaman dengan kesepian, bukan? Kita adalah makhluk sosial yang dengan senantiasa membutuhkan orang lain, terlepas untuk berbagi tawa atau tangis. Dalam persoalan ini, saya cukup merasakan kenyamanan yang baru. Kepercayaan saya kepada orang-orang dekat hilang sudah. Menyesal? Tentu. Namun, toh, saya sudah memutuskan untuk menghindar dan dengan tegas saya sampaikan itu pula pada mereka.

Ada satu hal yang saya selalu tak habis pikir. Orang-orang dekat saya berubah ketika mereka memiliki pasangan. Saya pun punya. Dari dulu bahkan mungkin saya yang paling rajin gonta ganti pasangan. Namun, bagi saya, posisi teman jauh di atas pasangan. Saya lebih memilih teman. Kunci-kunci hidup saya ada pada mereka. Tiap keluhan dan kebahagiaan, saya bagi pula pada mereka. Tapi, sayangnya saya tidak mendapatkan itu. Ada kalanya kita membutuhkan balasan yang setimpal. Pamrih? Bisa jadi. Bukankah manusia adalah makhluk yang senang mendapatkan perlakuan yang baik pula ketika memberi kebaikan?

Setidaknya ada beberapa orang sekaligus yang saya coret. Ternyata setelah saya pikir, keberadaan mereka malah menjadi beban bagi saya karena pertemanan kami memang tidak sehat. Keseimbangan dalam berhubungan tidak saya dapatkan. Jomplang. Jadi, saya pikir, untuk apa berbagi dengan orang yang enggan diajak berbagi? Mengapa kita membutuhkan dorongan dari orang yang tidak memberikan dukungan, ketika dalam keadaan bahagia sekali pun? Jalan paling realistis adalah menghentikan pertemanan. Menyakitkan? Sangat! Tapi saya enggan menyakiti diri lebih jauh dengan mengharapkan keberadaan mereka yang tak kunjung hadir.

Saya bukan tipe orang yang mudah memaafkan. Tentu saya punya klasifikasi untuk itu. Untuk beberapa kesalahan yang membuat saya jengah, tidak ada kata maaf dan pertemanan berakhir. Sekali saya muak, sulit untuk kembali. Bagi saya, kehilangan teman jauh lebih menyakitkan daripada kehilangan pasangan. Mereka jauh lebih tahu persoalan diri saya daripada pasangan. Namun, apa boleh buat? Permintaan maaf pada akhirnya menjadi legitimasi kesalahan dan retorika. Basa basi apa yang lebih buruk dari itu? Permintaan maaf adalah tindakan nyata, bukan sekedar pernyataan kosong.


Bandung, 5 Juli 2011

Demi Langit-9

Saya lupa tepatnya kapan. Saya hanya ingat kabar itu didapat dari jejaring sosial pagi hari. Lagi-lagi tentang tubuh perempuan yang menjadi objek seksual. Kali ini jauh lebih biadab. Saya tertegun dengan berita itu. Duka ini menimpa seorang bayi berumur 8 bulan. Saya tidak bisa membayangkan pukulan mental bagi sang ibu. Bayi mungil yang masih lucu-lucunya itu telah diperkosa! Peristiwa ini terjadi di Bantaeng, Sulawesi Selatan.

Berinisial NF. Bayi tersebut awalnya diculik lewat jendela. Beberapa hari kemudian, dia ditemukan di sebuah perahu nelayan dalam keadaan terikat dan terluka parah. Saya hanya berpikir dengan usia sedini itu dan berhari-hari, mekanisme apa yang ada dalam dirinya hingga masih bisa bertahan? Saya ragu pelaku memberinya makan. Hingga saya tulis berita ini, belum ada info lanjutan yang saya dapat.

Korban masih hidup. Setahu saya, dua hari setelah berita diturunkan melalui jejaring sosial dan munculnya gerakan amal, barulah ada reportase dari sebuah stasiun TV swasta. Setelah itu, turun info mengenai sang bayi malang tersebut. Mereka menceritakan keadaan terkini tentang bayi NF yang dipasang kateter dan kejang-kejang tiap kali buang air kecil atau buang air besar. Entahlah, saya sendiri masih menahan ngilu tiap membaca berita mengenai pelecehan seksual dalam bentuk apa pun. Lebih jauh lagi, saya masih sering mengutuk jika tindakan ini terjadi kepada bayi berumur 8 bulan!

Pelaku masih belum tertangkap hingga kini. Gerakan yang dilakukan para selebritis yang membuat semacam konser amal barangkali mampu sedikit mengurangi beban orang tua korban. Terdapat sederet nama artis ibu kota yang turut serta dalam acara ini. Informasi lengkap bisa Anda buka di link yang saya tulis di bawah.

Saya lagi-lagi menyoroti persoalan ketimuran yang selama ini digembar-gemborkan itu. Saya lagi-lagi ingin bicara tentang tubuh kaum hawa yang selalu dijadikan objek. Barangkali pelaku memang tergiur dan terangsang sebelumnya. Namun, saya masih sulit menemukan alasan bagaimana dia bisa melampiaskan hal tersebut kepada seorang bayi? Mungkin hewan bisa melakukan hubungan seksual dengan anaknya, tapi itu pun tidak semua. Kegiatan tersebut pun dilakukan untuk melanjutkan keturunan. Bukan untuk kesenangan. Hanya ada dua makhluk di dunia yang melakukan hubungan seksual tidak hanya untuk melanjutkan keturunan, tapi juga sebagai sarana mendapatkan kesenangan, yaitu manusia dan lumba-lumba. Lantas, masuk ke dalam klasifikasi apa pelaku ini?

Hewan yang dikategorikan nista seperti babi pun, bahkan masih memilih anaknya yang cukup umur untuk sebuah persenggamaan. Entahlah, saya begitu emosi menulis hal ini. Betapa tidak? Saya adalah seorang perempuan. Saya kelak melakukan kaderisasi umat dengan bereproduksi juga. Barangkali memang kita tidak usah memperdebatkan lagi persoalan perasaan orang tua korban. Membayangkannya saja sudah cukup menghancurkan hati.

Ini bangsa timur yang seringkali bicara tentang norma, kawan! Ini bangsa timur yang sedemikian naif saat membahas persoalan seksual yang tanpa sadar kita dijajah di dalamnya. Ini bangsa timur yang luar biasa menutup mata dengan realitas seksual yang terjadi di sekeliling kita. Ini bangsa timur yang senantiasa mengkerdilkan nilai perempuan dengan menjadikannya objek! Menjijikan.

Bagi saya dangkal sudah bahwa tubuh perempuan dijadikan alasan sebuah pelecehan seksual. Ini bukan lagi tentang keseksian perempuan, namun pada laki-laki yang tidak bisa mengendalikan pikirannya sendiri. Sedemikian luar biasanyakah tubuh perempuan, sehingga seorang bayi mungil pun dianggap menggiurkan? Jika pun pelecehan ini terjadi pada perempuan yang cukup umur, saya masih tidak habis pikir tentang aib dan penderitaannya seumur hidup, juga tentang stigmatisasi tentang dirinya yang dianggap nakal dengan berpakaian seksi. Halo! Ketika pun perempuan menjadi korban, lagi-lagi ada beban ganda yang harus disandangnya. Penilaian sosial. Ini lebih dari memuakan!

Cukup sudah pembelaan irasional bagi kaum pemuja arogansi patriarki. Ini tragedi! Jika kita bandingkan dengan negara timur tengah sana yang membungkus perempuannya dan sedemikian rupa mengerangkeng kegiatan sosialnya, apakah kita melihat ada tindakan manusiawi? Bahkan mereka masih tidak boleh menyetir mobilnya sendiri! Kebodohan yang dibalut agama macam apa ini?

Saya ingat dengan perbincangan saya dengan seorang teman tahun lalu. Ada salah satu kejadian yang mengenaskan terjadi di negara biadab tersebut. Seorang perempuan muda didapati berjalan bukan dengan muhrimnya. Lalu, dia dihukum orang tuanya dalam ruang isolasi selama 3 bulan. Ruangan itu berukuran kecil tanpa tempat tidur. Hanya ada ventilasi kecil di bawahnya. Dia dilarang keluar sama sekali dan diberi makan lewat ventilasi tersebut. Bahkan buang air pun harus tetap di ruangan. Lebih buruk dari perlakuan terhadap binatang! Perbuatan tersebut dilegitimasi atas nama agama. Ini yang paling menjijikan! Agama mana yang memberi ajaran penghukuman tidak manusiawi? Ini kesalahan interpretasi, kawan! Belakangan gadis itu keluar dari ruang isolasi dengan kondisi trauma berat. Inikah perlakuan manusia atas nama agama?

Hal ini yang tak henti-hentinya saya sorot. Perempuan selalu jadi objek! Betul bahwa ada sebagian hal yang bersifat adikodrati, namun kita pun harus memilah hal lain yang dibuat hasil konstruksi sosial. Subordinasi memuakan atas nama adat yang dibungkus salah tafsir nilai agama. Barangkali pada akhirnya jika banyak tindakan biadab dilakukan di negara-negara timur tengah sana, itu berkat pola pikir yang sebegitu dangkal. Perempuan diharuskan setertutup itu pun masih menghasilkan kondisi sosial masyarakat yang tidak manusiawi. Lantas, perempuan yang seksi pun dinilai buruk. Apa lagi yang harus dibebankan pada kaum hawa, kawan?

Jengah pun tidak menjawab persoalan. Banyak kasus tentang perempuan yang saya pelajari dan selalu dihadapkan pada pembenturan teologis yang salah tafsir, namun pembelaan selalu terjadi dari para pemuja patriarki. Hal ini pun begitu diperkuat dengan argumen-argumen kosong tentang teologi. Persoalan sistem menjadi PR berat bagi segenap elemen bangsa. Chaos! Jangan terburu dalam menyederhanakan persoalan dengan menjawab menggunakan argumen teologis agama tertentu. Utopis! Tidakkah Anda perhatikan collaps yang terjadi beruntun di negara-negara yang notabene menganut agama besar di timur tengah sana? Bahkan masyarakat pun lelah dengan sistem diktator yang dibangun seolah-olah berasal dari agama.

Kita bangsa timur yang harus menjunjung tinggi etika ketimuran adalah pernyataan sampah! Pada realitasnya bahkan kita lebih buruk dari orang barat yang seringkali kita tuduh tidak beragama. Minimal, jika mereka melakukan ekspansi, mereka enggan bicara atas nama agama. Berbeda dengan hipokritas bangsa timur yang selalu melegitimasi penindasan atas nama agama!

Jika kita bicara tentang hak asasi manusia atau persoalan perempuan, seringkali kita dituduh agen barat, mengkerdilkan agama, dan lain-lain. Padahal yang kita bicarakan adalah nilai-nilai universal tentang kemanusiaan yang saya yakin tiap agama memiliki itu. Jika pun saya disuruh memilih, saya lebih senang dituduh agen barat yang fokus terhadap masalah kemanusiaan, daripada berkiblat pada negara agama yang miskonsepsi.

Akhirnya mereka suka membandingkan hal yang tidak relevan. Barat lebih nista lewat perlakuan tidak manusiawi lewat penyerangan negara-negara penghasil minyak. Saya pikir, tindakan tidak manusiawi di belahan dunia mana pun memang harus dilawan. Saya tidak sedikit pun membela perbuatan barat saat melakukan penjajahan dalam segala segi. Namun, haruskan tindakan pengeboman itu menjadi jawaban? Tidakkah kita bisa sedikit lebih cerdas dan bermain pada ranah kebijakan dan diplomasi yang strategis? Mengapa kita lebih senang mendoktrin mereka adalah musuh kita, sedangkan musuh sesungguhnya adalah kebodohan yang diperkuat dengan argumen salah tafsir agama? Tidak satu pun solusi yang kita buat untuk kedamaian umat manusia. Toh, negara-negara kaya timur tengah sana yang berada di bawah naungan agama pun malah bercinta dengan sekutu, bukan? Semesta yang chaos! Saya berpikir bahwa untuk mencapai titik keseimbangan jagat raya, harus ada generasi yang dimusnahkan. Terlepas lewat bencana alam atau apa pun itu.

Sebagian dari kita masih sibuk menebar kebencian lewat dalil-dalil agama. Astaga! Saya seringkali berhadapan di forum dengan orang-orang macam itu. Ternyata bahkan cara diskusi pun mereka masih harus diberi pelajaran khusus. Mereka senang melakukan penyerangan subjek. Mengatakan kafir dengan mudah dan tanpa memperhatikan etika berdiskusi. Inikah yang mereka perjuangkan? Barangkali, jika sang nabi besar masih hidup, inilah yang membuatnya menangis. Pesan kedamaian semesta yang tidak sanggup disampaikan oleh umat penerusnya. Saya percaya bahwa sang nabi tak pernah mengajarkan hal buruk macam itu. Harusnya kita malu dengan doa dan air matanya yang senantiasa muncul di tiap akhir ritualnya untuk kita, umatnya, yang menjadi pengkhianat agama paling nyata bagi semesta.


Bandung, 1 Juli 2011

Demi Langit-8

Barangkali ini persoalan stigmatisasi tentang kami yang berhubungan lawan jenis dengan pria berkebangsaan asing. Asumsi-asumsi muncul dan seringkali membuat saya jengah. Dari mulai asumsi mengenai perbaikan keturunan, finansial, sampai seksualitas. Mungkin ada sebagian perempuan pribumi yang melakukan hal-hal itu, namun tidak bagi sebagian lain. Namun, tahukah Anda bahwa ketika tuduhan itu dilayangkan pada kami yang tidak memandang tiga hal tadi cukup menyakitkan?
 
Bule juga manusia. Betul bahwa mereka open minded. Mereka asyik untuk diajak diskusi tentang apa pun tanpa ketakutan mengenai dogma, doktrin, dan lain sebagainya. Mereka sangat terbuka dalam banyak hal. Salah satu sifat yang masih sulit dimiliki bangsa kita. Jika ada anggapan bahwa mereka gila dalam perihal seksual, saya pikir, bangsa kita bisa jadi lebih buruk. Sebagian bangsa kita rela memperkosa temannya sendiri dalam sebuah pesta seks, tidak seperti mereka yang melakukannya dengan kerelaan dan suka sama suka. Sebagian bangsa kita begitu heboh dengan perempuan-perempuan seksi, namun bagi mereka itu hal yang biasa. Kasus pemerkosaan nyata-nyata lebih besar di negera berkembang, daripada negara maju yang notabene bertebaran di barat sana. Prostitusi bahkan bisa masuk ke dalam iklan-iklan TV mereka, namun itu pun dijadwalkan di atas pukul 10 malam dimana anak-anak sudah tidur. Bandingkan dengan berita-berita vulgar tentang pelecehan seksual dan kriminal negara kita yang bisa dikonsumsi kapanpun,  dimanapun, dan oleh siapapun.
 
Betulkah barat identik dengan bebas? Betulkah mereka tak kenal kesantunan? Coba Anda pergi berbelanja di negara-negara itu. Ada kalimat khas yang akan Anda terima, “apa yang bisa saya bantu? Terima kasih”. Kalimat yang cukup sulit kita temui di negara sendiri ketika masuk pusat perbelanjaan. Ada kalanya pramuniaga hanya diam bahkan sibuk memainkan ponselnya. Atau coba Anda bandingkan ketertiban jalan raya, antrean, atau fasilitas umum lainnya di negara maju dengan negara kita. Mereka sangat teratur dan juga santun. Mereka sangat menghargai fasilitas umum. Di negara kita, sedikit sekali telepon umum yang berfungsi, halte bus yang bersih tanpa coretan, atau antrean tanpa serobot. Atau perhatikan keamanan berkendara. Bahkan menghormati penyeberang jalan pun sulit. Seringkali pula penyeberang jalan tidak mempedulikan zebra cross atau jembatan penyeberangan yang sengaja dibuat demi keamanan yang notabene hasil pajak kita. Inikah bangsa timur yang digembar gemborkan itu dengan kesantunan yang dijunjung tinggi? Kesantunan yang melekat pada tradisi ketimuran dan moral. Ataukah bangsa kita sudah muak dengan label bangsanya sendiri? Jika pun ada kasus-kasus yang berhubungan dengan seksualitas, barulah bangsa kita berteriak mengenai norma dan moral ketimuran dibalut label keagamaan. Ataukah moralitas kita hanya terbatas pada selangkangan? Kesantunan kita hanya terbatas pada ketelanjangan dan adegan-adegan seksual. Namun, seringkali kita lupa pada cara santun kepada sesama manusia.
 
Kita lupa sikap menghargai dan menghormati orang miskin atau orang yang berpenghasilan rendah, seperti tukang sampah, buruh, dan lain-lain. Kita melupakan korban-korban penindasan pemerintah, seperti tragedi lapindo. Bahkan sebagian orang semakin asyik dengan penindasan atas nama agama di Palestina sana. Kita lupa dengan ketertindasan bangsa sendiri! Bukankah kebanyakan buruh dan kaum miskin kota adalah mereka yang notabene menganut agama mayoritas kita juga? Lebih jauh lagi, mereka adalah bagian dari ibu pertiwi. Mengapa harus jauh bicara tentang Palestina dan Israel, sedangkan kita bahkan dijajah oleh pemerintah di negara sendiri?
 
Kembali pada stigmatisasi kaum bule. Kami adalah dua orang yang mencoba saling mencintai. Kami beradaptasi satu sama lain atas segala perbedaan yang ada. Ada kalanya kami sedemikian lelah dan marah dengan opini orang lain. Saya seringkali berkata padanya bahwa inilah realitas bangsa kita. Semua berawal dari pendidikan yang rendah, sehingga pola pikir yang ada pun menjadi dangkal. Barangkali ini yang disebut dengan generasi frustasi bangsa kita. Dimana masyarakat jengah dengan perilaku depresi penguasa. Rakyat dan pemerintah sama-sama disorientasi. Rakyat berperilaku menyimpang karena hasil keputusasaan kepada penguasa, sedangkan penguasa seringkali asyik dengan permainan dadunya. Namun, apa pun keadaannya, Indonesia tetap tanah air saya yang dengan segenap hati saya cintai. Percakapan pun ditutup dengan senyuman.


Bandung, 22 Juni 2011        

Demi Langit-7

Ini persoalan etika pertemanan. Beberapa kali mencoba perilaku buruk sebagian teman yang sempat cukup dekat. Bagi saya menghargai manusia lain lewat sikap adalah keniscayaan. Sebagai manusia tentu perasaan ingin dihormati merupakan wujud penerimaan tertinggi.

Sebut sajalah ini bagian dari mimpi buruk. Saya lebih menghargai kejujuran dalam bentuk yang langsung dan menyakitkan daripada harus bergesekan dengan kemunafikan. Seringkali kita memilih untuk bicara manis atau bahkan—yang paling menjijikan—diam untuk sekedar menutup ketidakmampuan berkomunikasi dengan baik. Diam itu pengkhianatan, kawan!

Saya lelah dengan ajaran yang seolah cerminan ketimuran ini. Orang timur tidak seterbuka orang barat. Ada sekat sedemikian tinggi sekedar berkomunikasi untuk sebuah kepastian penafsiran. Naïf!

Orang-orang lebih rela menghabiskan waktu untuk sekedar berdoa daripada memberikan penjelasan atas sebuah konflik karena terhambatnya komunikasi. Orang mencari solusi dari langit tiap jatuhnya air mata tanpa berani menghadapi konflik itu sendiri. Tak ada konfrontasi. Argumen menjadi coretan kutukan-kutukan hati tanpa realisasi. Yang saya pahami, doa adalah cara kita menyelesaikan permasalahan. Terlepas caranya melalui negosiasi atau bahkan perlawanan. Bukan hanya tunduk dan menangis, lalu pura-pura mempertanyakan apa yang terjadi.

Catatan kecil ini saya simpan. Ini bukan persoalan maaf, kawan. Namun, ini sebuah perlawanan atas penistaan harga sebuah persahabatan yang ternoda. Agar suatu saat kau mengerti, betapa perihnya eksistensi yang dikhianati atas sebuah tuduhan tak berdasar. Pernikahanmu suci. Persahabatan kita diingkari. Itu saja yang ingin aku sampaikan padamu.

*terilhami dari pernikahan seorang sahabat beberapa waktu lalu.


Bandung, 28 April 2011